Lima laptop Braille tertahan di Bea Cukai, ini keterangan Nirwala Dwi Heryanto,

Bagikan :

Makassar, kananews.net – Laptop Braille sebanyak Lima unit untuk murid Sekolah Luar Biasa (SLB)-A di bawah naungan Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia (YAPTI) yang berlokasi di Makassar, setelah tertahan selama sebulan di Bea Cukai Soetta, hal tersebut dibenarkan oleh Mudzakkir Abidin selaku perpanjangan tangan donatur untuk SLB-A Yapti Makassar sejak laptop tersebut viral di bahas di media social.

Akibat dari kasus itu pihak Bea Cukai turun tangan untuk melanjutkan penyelesaian tersebut dengan menggelar zoom.
“Sebelum Ramadan kemarin, saya bawa seorang Syeikh dari Arab Saudi ke SLB a YAPTI, Syeikh memberikan bantuan uang tunai dan sebagainya, kemudian beliau menjanjikan perangkat gawai laptop Braille untuk anak tunanetra,” ungkap Mudzakkir kepada wartawan.

Mudzakkir kemudian mengirim data alamat pribadi ke Syeikh itu tanpa diberitahu laptop akan dikirim. Beberapa pekan kemudian, Bea Cukai Soetta menghubungi Mudzakkir bahwa ada barang kiriman dari Inggris dan dibeli oleh warga Arab Saudi.
“Kemudian pihak (Bea Cukai Soetta) bertanya kepada saya apakah ini penggunaan pribadi? Nama yang ada di situ nama yayasan, itu untuk anak tunanetra di Yapti. Akhirnya mereka sudah tahu itu, mereka mempersyaratkan banyak dokumen termasuk rekomendasi dari beberapa kementerian,” lanjut Mudzakkir.

Dokumen rekomendasi Kementerian tersebut bisa didapatkan dari Kementerian Pendidikan, Kementerian Perdagangan, atau Kementerian Sosial. Jika Mudzakkir telah menyelesaikan seluruh dokumen, maka Bea Cukai membebaskan bea masuk karena dianggap sebagai bantuan alat belajar hibah.
“Kewajiban kami pertama adalah melengkapi persyaratan. Yang jelas yang mengarahkan kami kemarin adalah Bea Cukai,” lanjut Mudzakkir.

Mudzakkir memaklumi aturan Bea Cukai harus dipatuhi sehingga harus mengikuti prosedur, ia juga perlu membuktikan bahwa lima yunit laptop tersebut merupakan bantuan untuk murid tunanetra sehingga bea masuk bisa dibebaskan melalui berbagai persyaratan.
“Bea Cukai harusnya proaktif, jangan kita yang ngejar-ngejar gitu kan. Kesannya pasif gitu kan, satu pihak dihubungi ternyata jawabannya 2-3 hari gitu. Takutnya akan bermasalah lagi,” tutup Mudzakkir.

Di lokasi yang terpisah Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai, Nirwala Dwi Heryanto, menyebut perusahaan jasa titipan (PJT) yaitu UPS Worldwide Express Freight belum mengajukan dokumen ke Bea Cukai, sehingga PJT tersebut diundang untuk membahas mekanisme penyelesaian.

Dia memastikan Bea Cukai sudah membahas mekanisme penyelesaian barang hibah tersebut dan menghubungi pihak YAPTI.
“DJBC dalam pembahasan juga melibatkan pihak PJT dalam hal ini UPS Worldwide Express Freight. Sebenarnya belum di ranah Bea Cukai karena belum mengajukan dokumen,” kata Nirwala saat dihubungi oleh wartawan , Rabu (1/5(2024).

Selain itu, KA Wilayah BC Sulawesi Selatan juga akan membantu pihak YAPTI menyelesaikan barang hibah tersebut,” ujar Nirwala Dwi Heryanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *