Dinilai tidak profesional, Mahasiswa FAI menggugat Pimpinan prodi dalam proses seleksi wisudawan terbaik

ByBiccu 99

Jun 19, 2024 #Opini
Bagikan :

Apa jadinya jika himpunan tidak ada? Atau lembaga kemahasiswaan tidak ada? Atau Pimpinan Komisariat menjadi payung ideologi di kampus unismuh itu tidak ada? Pertanyaan sederhana ini membawa kita pada kenyataan bahwa Lembaga Kemahasiswaan memainkan peran penting dalam mengangkat popularitas program studi (Prodi) maupun Fakultas.

Berbagai kerja yang dijalankan oleh lembaga kemahasiswaan tidak hanya memperhatikan aspek substansinya, tetapi juga aspek formalnya. Setiap program kerja selalu memberikan panggung bagi pimpinan Prodi, karena ini adalah bentuk sinergitas yang kita rawat selama ini.

Namun, apa jadinya lembaga tanpa pengurus? Sederhananya, ini adalah entitas abstrak yang memiliki entropi atau ketidakteraturan. Dalam kajian fisika, entropi dapat memberikan kehidupan jika tingkat keteraturannya tinggi. Lembaga tanpa pengurus bagaikan rumah tanpa penghuni. Oleh karena itu, yang diperlukan saat ini adalah bagaimana Prodi dapat mengapresiasi para penggerak lembaga. Selain itu, perlu diberikan kesempatan bagi kami untuk berpartisipasi dalam ruang-ruang akademik yang justru saat ini sering dipandang sebelah mata, meskipun kami sudah berupaya membangun konsistensi dan popularitas Prodi.

Prodi sering kali terlalu jaim dan enggan untuk mengucapkan terima kasih, serta tidak tahu caranya berterima kasih. Momen wisuda yang tunggu-tunggu seyogyanya menjadi tempat bagi mereka yang aktif dalam lembaga. Para penggerak di lembaga seharusnya menjadi. wisudawan terbaik sebagai bentuk apresiasi. Namun, Prodi sering kali eksklusif terhadap mahasiswa. Bahkan, persoalan wisudawan terbaik tidak transparan dan tidak ada proses pendaftaran yang jelas. Kami berharap penggerak lembaga bisa mengisi ruang-ruang itu sebagai bentuk apresiasi Prodi.

Ketika Penulis pada beberapa waktu lalu menemui ketua prodi Hukum Ekonomi Syariah untuk menanyakan mengenai koridor dan seleksi dalam mengisi posisi sebagai wisudawan terbaik, nyatanya beliau hanya mengatakan sudah ada nama yang kami canangkan, tanpa seleksi yang ketat, hal ini sangat kami sayangkan, prodi yang seharusnya netral dalam menentukan ini, hanya mengambil sikap sepihak tanpa kordinasi kepada para mahasiswa yang ingin juga bersaing mendapatkan gelar wisudawan terbaik.

Yang menjadi dilematik juga, mahasiswa yang ditunjuk adalah kerabat dekat darinya, dan ketika kami melakukan klarifikasi nyatanya ada beberapa prestasi dari kandidat terkuat ini pembohongan jenjang kepemimpinan di tataran pimpinan cabang. juga prestasi yang di canangkan atau diberikan oleh kandidat kuat ini tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan beberapa pimpinan dan pengurus lembaga yang notabenenya ingin bersaing juga untuk mendapatkan gelar wisudawan terbaik itu.

“Saya selaku masyarakat FAI membenarkan adanya ketidakadilan. secara menyeluruh terhadap mahasiswa FAI” Ujar salah satu mahasiswa FAI

Salah satu mahasiswa FAI mengatakan bahwa yang menjadi tolak ukur unggul nya Unismuh dan Fai itu bisa dilihat dari kerja keras masyarakat lembaga se-FAi bukan dari mahasiswa kupu kupu yang di idam-idamkan menjadi mahasiswa terbaik fakultas dan jurusan oleh pimpinan. Pengurus lembaga mulai tidak di perhitungkan dan dianggap penting sehingga pimpinan Fakultas memutuskan terbaik tingkat Jurusan dan Fakultas angkatan 83 diberikan kepada mahasiswa kupu-kupu.

Fakultas Agama Islam lainnya membenarkan ketidakadilan yang menyeluruh mahasiswa FAI, Pengurus lembaga mulai tidak di perhitungkan dan di anggap tidak penting sehingga pimpinan prodi memutuskan wister angkatan 83 diberikan kepada mahasiswa kupu-kupu.

“Pimpinan Fakultas Agama Islam seharusnya mengevaluasi para Kaprodi khususnya Kaprodi HES, dalam menyeleksi wisudawan agar para pengurus lembaga yang bersinergi dari dulu dengan fakultas mendapatkan perhatian Lebih” (Ujar salah satu Mahasiswa FAI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *