Perang terjadi di Myanmar antara militer Juntaan, Tentara Thailand dan awak media berlindung di dekat Jembatan Persahabatan Thailand dan Myanmar

ByBiccu 99

Jun 8, 2024 #Myanmar, #Thailand
Bagikan :

Myanmar, kananews.net – Perang terjadi di Myanmar antara juntaan militer ke warganya sendiri. Bahkan, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) telah mengeluarkan kecaman keras kepada militer atas serangan ini.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres “mengutuk keras” serangan baru-baru ini oleh militer Myanmar yang dilaporkan menewaskan sejumlah warga sipil di negara bagian Rakhine barat dan wilayah Sagaing Utara dalam beberapa hari terakhir.

Dari kejadian tersebut, para Tentara Thailand dan awak media berlindung di dekat Jembatan Persahabatan Thailand dan Myanmar di dekat perbatasan Thailand-Myanmar, di Mae Sot, Tak Provinsi, Thailand.
“Sekjen mengutuk keras serangan baru-baru ini oleh militer Myanmar yang dilaporkan menewaskan sejumlah warga sipil, termasuk di Negara Bagian Rakhine,” kata juru bicara Guterres Stephane Dujarric dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari AFP, Jumat (7/6/2024) kemarin.

Diberitakan sebelumnya , pada Senin waktu setempat muncul laporan junta meluncurkan serangan udara ke sebuah acara upacara pernikahan di wilayah Sagaing. Radio Free Asia (RFA) melaporkan serangan itu dilakukan dengan pesawat udara yang menjatuhkan dua bom seberat 500 pon pada pukul 08.15 pagi waktu setempat.
Serangan menewaskan 24 orang dan melukai sekitar 30 lainnya. Saksi mata menyebut setelah serangan itu, junta melepaskan tembakan artileri ke pedesaan.
“Setelah pemboman tersebut, pasukan junta melepaskan beberapa tembakan artileri ke desa Ma Taw di kotapraja Mingin, memaksa lebih dari 2.000 penduduk dari enam desa terdekat meninggalkan rumah mereka,” kata seorang warga bernama U Htay.

Sagaing sendiri merupakan pusat perlawanan etnis Burman terhadap pemerintahan militer. Dalam operasi di wilayah ini, junta seringkali merespon dengan senjata berat, yang membuat penduduk sipil ikut menjadi sasaran.

Menteri Hak Asasi Manusia di pemerintahan bayangan Persatuan Nasional, Aung Myo Min, menyebut pemboman tersebut sebagai kejahatan perang.
“Ini sama sekali bukan kampanye militer, tapi pengeboman yang disengaja terhadap sebuah pernikahan sipil. Ini adalah strategi militer dan serangan yang disengaja terhadap penduduk sipil,” ujarnya.

Saluran Telegram yang didukung juta militer mengatakan pesawatnya menjatuhkan dua bom tersebut karena pemimpin Pasukan Pertahanan Rakyat Mingin adalah salah satu orang yang akan menikah. Namun klaim ini belum terverifikasi.

Myanmar berada dalam perang saudara sejak junta militer pimpinan Min Aung Hlaing mengkudeta pemerintahan sipil pada Februari 2021. Kudeta, yang terjadi pada bulan Februari 2021 memicu reaksi publik yang besar, dengan demonstrasi besar-besaran yang menolaknya, yang kemudian dibubarkan secara brutal.

Ini kemudian memicu reaksi keras dari beberapa milisi etnis di Negeri Seribu Pagoda. Mereka mulai melancarkan perlawanan terhadap rezim junta yang dianggap tidak demokratis.

Sementara itu, dalam beberapa waktu terakhir, junta dilaporkan mulai mengalami kekalahan di sejumlah tempat. Salah satunya adalah di wilayah Kayin, Kachin, dan Shan, yang berbatasan dengan China dan Thailand. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *