Sudah 30 Tahun Lebih Berdiri, Begini Es Teler Panaikang Mempertahankan Cita Rasa Dan Ciri Khasnya

BySang Pencerah

Mei 25, 2024
Bagikan :

Makassar, kananews.net – Sudah 30 tahun lebih berdiri, Es Teler Panaikang di Jl Urip Sumaharjo, Kelurahan Panaikang, Kecamatan Panakukang, Kota Makassar, masih eksis sampai sekarang.

Meskipun berjualan di area pekuburan Kristen, pembeli tetap ramai berdatangan untuk mencicipi minuman legendaris tersebut.

Pasalnya Es Teler Panaikang disebut-sebut sebagai warung es teler pertama di Kota Makassar.

“Memang itu Hajiku pintar berdagang, dia yang pertama buat es teler, tidak adapi yang lain,” kata Nur Hayati, Kamis (26/10/2023) yang lalu.

Haji dimaksud Nur Hayati adalah Abdul Rasyid, sang pemilik Es Teler Panaikang.

Sementara Nur Hayati adalah anak dari Abdul Rasyid, alias generasi kedua Es Teler Panaikang.

Abdul Rasyid menghembuskan nafas terakhirnya kurang lebih tiga tahun lalu di usia 85 tahun.

Semasa masih diurus Abdul Rasyid, ia enggan membuka cabang. Namun kini sudah memiliki dua cabang yang dikelola anak-anaknya.

“Cabangnya ada di Sudiang dan Maros, saya dan saudaraku yang kelola itu,” kata Nur di sela kesibukannya melayani pembeli.

Wanita 56 tahun itu mengaku usaha ayahnya ini dikelola sendiri dan selalu memakai bahan-bahan baru agar terlihat segar.

Hal itu demi mempertahankan cita rasa dan ciri khas Es Teler Panaikang.

“Hajiku racik sendiri bahannya, dan kelola sendiri, sampai saat ini kami selalu menerapkan itu, bahan-bahan yang dipakai juga selalu baru,” ujarnya.

Nur Hayati mengatakan, eskipun sekarang ini sudah banyak penjual es teler di Kota Makassar, namun Es Teler Panaikang rasanya tidak berubahsejak awal dibuka sampai sekarang.

“Sekarang ini sudah banyak orang yang jual es teler, tetapi es teler kami beda dari yang lain, rasanya tetap seperti dulu, karena gula yang kami pakai gula khusus,” ucap dia.

Nur hayati menambahkan, walaupun ayahnya hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) yang dulu dikenal dengan Sekolah Rakyat (SR), tetapi mampu menciptakan usaha turun-temurun ini.

“Hajiku itu tidak sekolah tinggi, hanya lulusan SR tapi dia pintar membaca, jadi dia bisa buat usaha ini,”. katanya lagi.

Ditanya lokasi berjualannya, ibu enam anak ini mengatakan memilih area perkuburan karena dekat dari rumahnya.

“Hajiku sudah lama jualan di sini, karena dekat dari rumah, tidak ada alasan lain kenapa kita buka di daerah kuburan, banyak orang salah beranggapan karena kita buka di area perkuburan,” ucap Nur hayati. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *