Jual Beli Pendidikan atau Sekolah (Komersialisasi Pendidikan) Banyak Terjadi dan akan Terjadi

ByBiccu 99

Agu 31, 2023
Bagikan :

Oleh : Budi Setiawan (Tenaga Pengajar di Sma Al Bayan Makassar)

Pada era sekarang ini, jual beli pendidikan atau sekolah (komersialisasi pendidikan) banyak terjadi dan akan terjadi sebelum pemerintah dan masyarakat tersadar dari tidur nyenyaknya. Hal ini karena mindset masyarakat yang begitu tergantung pada hal yang formal dan simbolik. Gaya berpikir formal dalam dunia pendidikan merupakan pemikiran yang menganggap bahwa sekolah adalah hal wajib yang harus ditempuh untuk mencapai kesuksesan dengan adanya ijazah yang menjadi simbolnya. Pandangan ini beranggapan bahwa sesuatu yang berada di luar sekolah bukanlah pendidikan. Sehingga semua orang tua mendaftarkan anak-anaknya dalam administrasi sekolah agar bisa menjadikannya anak yang terdidik dan berijazah. Apapun kendala dan tantangannya, meskipun tinggi bayarannya, tetap akan diupayakan (cinta orang tua kepada ada anaknya agar bisa sukses dan bahagia dikemudian hari kelak).

Masyarakat kita majemuk, ada yang punya modal dan ada yang kurang atau bahkan tidak bermodal (miskin). Komersialisasi pendidikan membuatnya timpang dan tidak merata. Logika ekonomi menjelaskan bahwa semakin banyak modalmu semakin banyak pula barang yang bisa kamu beli atau tawar begitu pula sebaliknya. Pendidikan disini menjadi sesuatu yang dapat diperjual belikan artinya yang kaya akan mendapatkan lebih banyak pilihan atau opsi untuk cerdas, atau membuat anak-anaknya pintar serta dengan kejelasan kesuksesan dimasa mendatang sedangkan yang miskin akan terus berkutik di lingkarang kemiskinannya dikarenakan modal dan ilmu yang diperoleh hanya sedikit dan belum mampu merubah garis yang telah ditakdirkan. Saya sebut ini sebagai takdir bagi si miskin ditentukan oleh kebijakan pendidikan yang berkuasa. Ekonomi sekarang menjadi orientasi pendidikan sehingga wajar saja banyak kemudian disekitaran kita anak-anak yang dipaksa hilang hak-hak dasarnya sebagai seorang manusia yang harusnya hidup layak (sandang, pangan, dan kesehatan) dan sebagai seorang anak yang harusnya bermain dan bersekolah (Pendidikan) tapi karena tuntutan hak dasar saja belum terpenuhi memulung, mengamen, atau berjualan menjadi permainan klasik yang cukup mengasyikkan. Yang terpenting adalah membantu orang tua agar bisa hidup.

Banyak sekolah-sekolah unggulan di negeri ini baik yang bertaraf internasional ataupun lokal yang memiliki peluang besar untuk mencerdaskan kehidupan seluruh bangsa karena di backup oleh guru-guru ataupun fasilitas sekolah yang bagus, unggul dan memadai. Sayangnya wadah tersebut hanya diperuntuhkan atau berlaku untuk orang-orang yang punya modal (kaya). Bagi orang yang miskin, itu semua hanyalah sebuah mimpi belaka untuk merasakan hal tersebut karena terhalang oleh modal, uang atau biaya. Dari sini sangatlah tampak perbedaan yang sangat mencolok, gap yang begitu besar antara si kaya dan si miskin dalam memperoleh atau merasakan implementasi pendidikan. Si kaya mendapatkan pendidikan yang dapat memberikan jaminan masa depan yang cerah, sedangkan si miskin akan mendapatkan atau memperoleh pendidikan yang hanya membuatnya semakin miskin. Oleh karena itu sangatlah jelas bahwa sekolah sekarang dapat menjadi wadah yang membodohkan atau medehumanisasikan jika tidak diterapkan dengan baik. “Karena Pendidikan Kaya akan semakin Kaya, dan Miskin akan semakin Miskin”.

Ketimpangan yang terjadi di dunia pendidikan saat ini merupakan hal serius yang terabaikan. Sekolah sekarang didasarkan pada modal, dimana jika modal awalnya tinggi maka akan membuahkan hasil yang tinggi pula, sedangkan jika modalnya rendah atau bahkan tidak ada maka akan membuahkan hasil yang memprihatinkan. Disini saya tidak skeptis terhadap output yang dihasilkan oleh sistem pendidikan yang diterapkan sekarang, hanya saja saya mencoba realistis terhadap realita yang ada tentang apa dan bagaimana sistem pendidikan itu berbicara. Indonesia mungkin telah merdeka eksistensinya secara de jure namun pada kenyataannya, masih banyak masyarakat kita yang masih belum merasakan esensi dari kemerdekaan itu sendiri. Merdeka tidak hanya terbebas dari penjajahan (kolonialsm) tapi merdeka juga harus mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya seperti, makan, perlindungan, kesehatan, dan pendidikan. Jadi jika masih banyak rakyat di negara merdeka ini yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya sebagai seorang manusia apakah indonesia sudah merdeka atau belum? Merdeka bagi yang berpunya atau orang kaya, tidak merdeka untuk kalangan miskin.

Pemerintah harus menangani ketimpangan tersebut. Penyemerataan pendidikan harus diperhatikan dengan serius. Pendidikan menjadi hal utama karena itu adalah misi menuju visi indonesia sejahtera. Pendidikan adalah penentu bagaimana suatu negara bisa bertahan atau tidak. Karena esensi pendidikan adalah kebahagiaan, keselamatan dan kesejahteraan manusia dalam menjalani hidup. Jika pendidikanya baik korupsi mungkin sesuatu yang tabu di negara ini. Dan bagaimana itu bisa dicapai jika kelayakan pendidikan tidak merata atau hanya segelintir kelas atau golongan saja yang bisa merasakan. Itupun dengan visi yang berbeda.

Dari sini saya berpikir bahwa pendidikan sekarang sudah bergeser dari hakikatnya. Pendidikan adalah hal dasar yang wajib diberikan kepada manusia karena pendidikan penentu bagaimana manusia itu bersikap dan berperilaku dalam menjalani kehidupannya di muka bumi (sebagai Khalifah). Pendidikan tidak boleh hanya dirasakan oleh kelompok-kelompok tertentu dan membatasi kelompok yang lainnya. Pendidikan adalah hak dasar yang harus terpenuhi, ketika dia masih berstatus sebagai manusia maka wajib merasakan pendidikan yang layak. Oleh karena itu pendidikan harusnya dirasakan oleh seluruh rakyat tentunya dengan pendidikan yang baik dan layak tanpa mengenal kaya dan miskin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *