Pendidikan untuk Ijazah, Kebebasan dan Kemerdekaan Manusia

ByBiccu 99

Agu 18, 2023
Bagikan :

Oleh : Budi Setiawan (Tenaga Pengajar di Sma Al Bayan Makassar)

Yang saya pahami melalui analisis kotor mengenai pendidikan sekarang ini adalah pendidikan identik dengan sekolah (lembaga formal) yang hanya menjadi syarat formal belaka. Terjadi dikotomi yang begitu besar antara pendidikan formal dan non formal.

Sehingga Masyarakat terlalu sempit memahami bahwa pendidikan hanya sebatas persekolahan (formal) saja, jadi anggapan buruk pun melekat pada hal-hal yang sifatnya non formal.

Saya menganalisa bahwa terjadinya dikitomi ini dikarenakan sifat eksistensi yang melekat pada sekolah tersebut, bahwa sekolah adalah syarat formal untuk mencapai kesuksesan (pendidikan kapitalis).

Syarat formal yg dimaksud disini adalah ijazah. kata kuncinya adalah Ijazah.

Untuk itu saya berpandangan terhadap masyarakat sekarang (pragmatism) bahwa ijazah adalah tujuan utama pendidikan.

Ijazah inilah yang sebenarnya menjadi hakekat dari sekolah atau lembaga formal yang kita anggap sebagai perwujudan pendidikan.

Sebahagian orang tua Menyekolahkan anak-anaknnya hanya untuk mendapat ijazah sedangkan persoalan kebermanfaatan ilmu itu soal lain dan belakang intinya ijazah dulu, kompetensi seseorangpun sekarang dinilai dari tinggi tebalnya duit dan gelar yang diperoleh seseorang.

Dalam sistem perindustrian atau dunia kerja sekarang ini, ijazah menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki para pelamar (tidak sedikit perusahaan yang meloloskan pelamar tanpa ijazah kecuali lewat jalur orang dalam).

Ijazah yang diajukan mungkin hanya sebatas kunci administrasi untuk masuk ke dalam dan dilupakan setelahnya meskipun begitu sifatnya tetap mutlak, sesimpel itu kita dapatkan polanya bahwa orang-orang berjuang dan mati-matian mengorbankan waktu, pikiran dan materi demi selembar kertas (ijazah) bahkan tidak sedikit yang melakukannya dengan jalan pintas lain dengan membeli tanpa merasakan perjuangan dan segala pengorbanannya.

Tidak ada ijazah tidak kerja.

Yang saya sayangkan disini adalah, ketika ijazah itu sudah di tangan, banyak yang kita jumpai ilmu-ilmu yang basi dan hilang arah dan kebermanfaatannya antara ilmu yang ada di kepala dan kertas ijazah di tangan memiliki arah dan tujuan yang berbeda.

Syukur saja jika sejalan tapi banyak juga yang saling bertentangan, Hal ini karena tidak adanya pertimbangan mengenai kecocokan antara ilmu, passion, dan pekerjaan demi sebuah materil (uang).

Kadangkala itu terjadi karena upah yg mungkin lebih tinggi atau menggiurkan meskipun tidak sejalan dengan passion atau kehendak bebasnya sebagai manusia yg merdeka tapi karena tuntutan keluarga, kredit, flaxing, dan hedonis sehingga manusia itupun terjajah oleh kehendaknya sendiri yang disetting untuk mencapai keinginan luar dari dirinya, logika sederhananya yaitu, kuliahnya X, passionnya Y, dan kerjanya Z (output pendidiakn kapitalis).

Jadi ketika terjadi perbedaan arah antara passion dan pekerjaan apakah termasuk manusia yang bebas?

Padahal pendidikan untuk membebaskan dan memerdekakan manusianya.

Yang hanya mencari ijazah di persekolahan adalah contoh dari penerapan gaya berpikir logika formal yg tentunya berlawanan dengan pola pikiran esensial dan dialektis. Formalitas bukanlah esensi. Jadi orang-orang yang memiliki banyak ijazah tidak bisa dijadikan patokan akan kualitas diri, karena ijazah sekolah tidaklah menunjukkan adanya mutu.

tidak jarang orang yang bersekolah pada tingkat yang paling tinggi, tapi memiliki kecerdasan yang rendah, mentalnya rusak, karakternya kerdil, pengecut dan jiwa yang koruptif.

Sebagaimana yang dikatakan dalam bukunya Nurani Soyomukti bahwa Sekolah justru akan melahirkan manusia manusia duhuman yang akan merampok seluruh potensi kemanusiaan yg hidup dalam sebuah komunitas (negara-bangsa).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *