Pandangan Teori Konstruktivisme; Guru Sebagai Fasilitator Calon Pemilih Pemula

Bagikan :

Jika mendengar kata ‘pendidikan’ yang terlintas tentu sebuah bangunan yang bernama ‘sekolah’. Di dalamnya penuh harapan dan aneka ragam pandangan. Ada anak-anak yang datang belajar pun ada guru yang menjadi pembimbing, serta acuan dalam bersikap untuk memahami ilmu pengetahuan serta punya persepsi sendiri yang akan bertemu dalam sebuah ruangan. Bagaimana dengan kebenaran? Tentu sekolah menjadi tempat untuk mencoba menemukan apa itu kebenaran dan mana itu kebaikan. Pertemuan murid dengan murid lainnya, guru dan murid, guru dan guru lainnya takkan pernah jadi yang benar-benar satu pandangan. Apa yang membuatnya menjadi satu? Mungkin birokrasi yang mengikat, mungkin pandangan umum masyarakat berdasarkan suku, area tempat tinggal, bahkan kepercayaan.
Amanat pembukaan undang-undang dasar 1945 yakni bait ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ menjadi janji yang pantang dilanggar oleh seluruh elemen negara ini. Menjadi janji yang akan terus menerus menjalankan proses penyempurnaan sedang kehidupan sudahlah tentu tidak memiliki kesempurnaan.

Menilik kalimat sakral dari seorang Abraham Maslow “Pendidikan seharusnya memprioritaskan pengembangan penuh potensi manusia, melibatkan aspek kognitif, emosional, sosial, dan moral”. Setiap manusia memiliki potensi yang berbeda, terlahir menjadi seorang petarung yang mengarungi ilmu sesuai dengan keahliannya masing-masing. Tentunya, ada banyak perjalanan yang tidak mudah untuk menjadi seorang pembelajar lalu menjelma menjadi seorang guru.

Tentang teori konstruktivisme yang mana individu secara aktif membangun pemahaman mereka melalui pengalaman, bukan hanya menerima informasi secara pasif. Ketika individu mengalami dunia dan merefleksikan pengalaman mereka, mereka membangun pembelajaran mereka dan menambahkan detail baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Dalam cakupan kehidupan selepas dari ruang-ruang kelas, hampir semua tempat memiliki nilai pembelajaran. Sebagaimana pesan Bapak Pendidikan Indonesia, semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru. Namun, dalam dunia pendidikan formal yang dimaksud, pembelajaran yang mendukung alam pikiran manusia yang terbentang luas sedemikian rupa tentu harus dimaksimalkan, guna menjadi manusia yang akan terus memanusiakan. Informasi yang didapati, pengalaman hidup yang pernah dijalani menjadikan pembelajar dalam hal ini seorang siswa akan mampu memaknai tiap-tiap perjalanan dalam proses pendidikan formal maupun non formal.

Menjelang pesta demokrasi, seluruh elemen masyarakat Indonesia akan bersiap menemukan dan dipertemukan dengan pengetahuan mengenai calon kandidat yang tentu menjadi prioritas bersama adalah presiden yang menjadi kepala dari segala kepala pemerintahan di negeri ni. Dan salah satu sasaran adanya indikasi politik praktis dikarenakan berbagai faktor. Berdasarkan survei lembaga Indikator Politik Indonesia, pada tahun 2021 menemukan 64,7 persen anak muda menilai partai politik atau politisi tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi (Farisa, 2021).
Pemilih pemula yang dimaksud dalam ranah pendidikan menengah adalah siswa SMA/SMK sederajat yang sudah berusia 17 tahun ke atas. Dapat di asumsikan rentang usia sekolah siswa SMA sederajat pada umumnya fase 17-19 tahun. Penting bagi seorang guru untuk menjadi fasilitator yang aktif dalam membantu siswa membuka cakrawala pemikirannya dalam menentukan siapa yang akan di pilih saat pesta demokrasi berlangsung.

Guru perlu memberikan arahan yang jelas kepada siswa untuk mengetahui bagaimana dan apa hal-hal mendasar yang diperlukan dalam menentukan pemimpin yang cocok bagi bangsa. Tentu akan terdapat perbedaan yang mendasar, namun tugas seorang guru sebagai fasilitator di ruang kelas dan dilingkup pendidikan formal perlu memberikan langkah-langkah konkrit agar siswa bisa bereksplorasi dalam pengetahuan untuk menentukan nasib bangsa ini. Dengan hal itu pula, diharapkan akan tumbuh jiwa nasionalisme lewat pendidikan dan akan menjadi pembelajaran hidup untuk kedepannya tentang memilih seorang pemimpin bagi bangsa. Saat guru ingin menciptakan lingkungan belajar yang konstruktivis, guru perlu membuat konseptual pembelajaran yang bisa dilakukan oleh seluruh siswa dalam mempelajari kontribusi dan peran mereka sebagai anak muda yang akan menyumbangkan suara kepada calon pemimpin bangsa.

Prinsip utama dari konstrutivisme yaitu siswa dapat menciptakan pengetahuan dan pemahaman tentang apapun melalui kegiatan eksternal seperi eksplorasi, pengalaman, dan interaksi. Dalam hal ini tidak hanya menumbuh lewat lingkungan sekolah menengah atas sederajat tapi dalam dilakukan sedini mungkin. Kita mengenal OSIS sebagai organisasi yang menjadi wadah bagi siswa untuk memulai pengalaman dalam memilih pemimpin seperti apa yang mereka butuhkan. Sebagaimana guru akan memberikan konteks secara umum yang terarah mengenai kepemimpinan yang baik, tata bicara dan kelakuan yang pantas untuk seorang pemimpin. Sehingga siswa diharapkan kedepan akan menjadi pemilih yang cerdas dalam kontribusinya sebagai pemilih pemula. Ruang ekplorasi sebanyak mungkin dengan kolaborasi pihak terkait seperti sosialisasi bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang pentingnya partisipasi aktif untuk mengetahui secara baik calon pemimpin yang sedang mencalonkan untuk dipilih. Dalam proses ini pengembangan daya kognitif pada siswa akan semakin aktif bukan terbatas pada keinginan salah satu pihak. Intruksi yang jelas dari seorang guru yang menjadi fasilitator di sekolah tidak sekedar memberikan memberikan kebebasan namun akan mencapai simpulan yang sesuai dengan idelogi bangsa dan negara.

Partisipasi yang aktif ini tentu akan memberikan pembelajaran yang tidak hanya berguna saat pemilihan seorang pemimpin negara, namun menjadikan bekal berupa kemampuan berpikir kritis yang akan dibawa dalam dunia kerja dan industri. Prinsip lain dari teori konstruktivisme adalah membangun pengetahuan dari pengalaman. Menyerap fakta dan data untuk melahirkan generasi yang bermawas diri untuk menyampaikan dan menentukan pilihan. Terkait kemajuan teknologi yang semakin cepat dan akses informasi yang semakin banyak membuat guru sebagai fasilitator perlu memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pemahaman dalam mengolah fakta dan data yang ditemukan sehingga terhindar dari isu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Dengan demikian, siswa memiliki pemahaman sendiri mengenai cara menjadi seorang pemilih pemula.

Lingkungan belajar yang dimiliki perlu mendukung, baik guru dan siswa untuk terhindar dari segala jenis tindakan yang tidak memberikan karakter pribadi bangsa. Memberika ruang yang menarik dan interaktif bagi siswa tanpa menyudutkan pilihan satu sama lain. Mungkin kita kenal sebagai LUBER dan JURDIL yang menjadi singkatan yang mestinya diketahui oleh seluruh lapisan calon pemilih dalam pemilu. Yang mana LUBER JURDIL merupakan singkatan dari langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Nilai yang bersangkut paut dengan ideologi bahwa setiap warga negara berhak menentukan pilihannya atas siapa yang akan memimpin bangsanya. Tentu didukung dengan ilmu pengetahuan sebagai tonggak dalam menentukan sikap. Berbagai diskusi, dialog yang akan secara terstruktur dan sistematis menuju arah pikiran dan keputusan guna berkolaborasi dalam memberikan suara untuk negeri. Pengalaman belajar yang diberikan tentu menjadi milik siswa seutuhnya.

Dari ilmu pengetahuan yang telah dibimbing oleh seorang guru yang menjadi fasilitator dalam dunia pendidikan formal khsusunya, pengetahuan yang siswa dapatkan tentu akan berkembang berdasarkan pengalaman yang sudah ada sebelumnya. Dalam hal ini akan didapati masing-masing siswa dengan pengalaman mereka didalam rumah mereka, sekolah mereka, pergaulan di sekolah maupun diluar sekolah akan memberikan dampak kepada masa depan. Proses belajar tidak tidak diperkenankan secara pasif. Tapi, proses yang aktif dari seorang pembelajar dalam kegiatan membaca, dan berdiskusi tentunya. Pelajar dalam berdialog dan memiliki akses untuk lebih dekat mengetahui calon pemimpin mereka dalam periode kedepannya.

Guru memberikan ruang bagi siswa sebagai calon pemilih pemula untuk mempertahankan pengetahuan yang mereka miliki tanpa perlu menghakimi hasil pemikiran orang lain. Pengalaman mental dalam pembelajaran pada sudut pandang konstruktivisme menjadi motivasi dan strategi kognitid dalam tampilan kerangka berpikir secara universal dalam menghadapi waktu pemilihan. Pembelajaran dengan basis penemuan, mempertemukan kritik masa lalu dari pemimpin sebelumnya untuk dijadikan pelajaran dalam memilih pemimpin berikutnya. Meski dalam perdebatan ruang kelas yang bersifat ilmiah dan tetap mengacu pada nilai budaya yang ada di Indonesia. Guru dan seluruh elemen pendidikan berperan aktif untuk mengarahkan para pemilih pemula menjadi cerdas tidak hanya sekedar ilmu pengetahuan dalam menentukan siapa yang akan dipilih tapi menerima perbedaan pendapat yang terjadi diantara mereka.

 

 

Penulis

RANI LAYLATUL FITRIA

S2 Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *