Laksanakan Pramuka, Wahyudi : Pramuka itu bukan hanya Ekstrakurikuler Saja

Bagikan :

Makassar, kananews.net – 2013 yang lalu Samsul Bahri salah satu tenaga pengajar di Sekolah luar biasa tepatnya di SLB-A YAPTI Makassar jalan Kapten piere tendean blok M/7 Makassar.

Selama Samsul Bahri mengajar di sekolah tersebut ia sangat kreatif mengajar terutama di bidang Ekstrakurikuler kepramukaan.

Saat dihubungi oleh kananews.net, Samsul banyak bercerita mengenai pengalaman mengajar di kalangan tunanetra terkhusus mengajar mereka pramuka.
“Pada awalnya itu saya berfikir bahwa tunanetra juga bisa dilatih pramuka, karena yang pertama saya punya besik kepramukaan. Hal itulah yang menantang saya untuk saling berbagi ilmu karena saya fikir materi-materi kepramukaan itu tunanetra juga mampu, namun saya lama memikirkan teknik dan metodenya, misalnya baris berbaris yang memerlukan metode khusus, tali temali, membuat tandu dan lain sebagainya.”

Lebih lanjut samsul menceritakan antusias para siswa mempelajari pramuka.
“Dengan melihat semangat para siswa siswi begitu antusias kalau diajar, hal itu yang memotifasi saya untuk senantiasa memikirkan metode atau teknik-teknik agar materi-materi kepramukaan mampu diterapkan di kalangan tunanetra.”

Dengan dasar itulah kami dari pihak guru mencoba alhamdulillah berhasil mengharumkan nama baik sekolah ke tingkat nasional pada 2014 dan 2015 hingga event-event lainnya yang diselenggarakan di provinsi.

Dari peristiwa tersebut Samsul berharap YAPTI bisa masuk dari segala ini. Seperti: menyanyi, olahraga, dan musik, dari ketiga ini siswa siswi di YAPTI tidak usah diragukan lagi.

YAPTI juga harus tampil dan menonjol di kepramukaan.
Samsul berharap pramuka di YAPTI bisa lebih baik dan Pembina bisa lebih kreatif mencari teknik agar materi dapat diserap oleh siswa.
“Saya berharap kepada pelatih agar mencari solusi apabila siswa kurang memahami materi-materi yang diberikan, misalnya ketika kita belajar baris berbaris, metode sandi, tali temali, membuat tandu dan lain sebagainya, ketika diajarkan dan siswa tidak tahu maka kita jangan tinggal diam dan mengatakan ini susah, dari kendala tersebut pelatih sebaiknya tertantang untuk berfikir kreatif lagi dan mencari teknik-teknik lain. Saya berharap pramuka di YAPTI tak hanya sampai di nasional, tapi bisa sampai di internasional karena teman-teman tunanetra itu bisa seperti teman-teman lainnya, hal itulah yang menjadi prinsip saya saat membina pramuka di YAPTI”, jelasnya.

Anak tunanetra itu sebenarnya berpotensi seperti anak-anak lainnya, tinggal Pembina dan gurunya yang memikirkan teknik dan metodenya, sambung Samsul.

Suasana Latihan baris-berbaris

Ditempat yang terpisah Wahyudi selaku Pembina pramuka mengungkapkan: ada beberapa perbedaan teknik yang bisa saya petakan kalau kita mengajar pramuka di anak tunanetra utamanya teknik mengajar, kemudian dari segi perlakuan saya terhadap siswa yang mau diajar.
“Kalau kita mengajar mereka secara cepat maka kita ajar dulu mereka satu sampai tiga orang lalu mereka yang mengajar temanya, di pertemuan selanjutnya kita efaluasi bersama apakah sesuai arahan yang diberikan ataukah ada yang tidak tersampaikan dengan baik.”

Berbeda jika kita mengajar di Sekolah umum, yang mana mereka hanya diberikan contoh oleh gurunya mereka langsung mempraktikkan apa yang di contohkan, sambungnya.

Lebih lanjut Wahyudi mengungkapkan harapannya atas adanya pramuka ini.
“Pramuka itu bukan hanya Ekstrakurikuler atau ikut-ikut event saja, pramuka itu mengajarkan kita memaknai kehidupan yang sesungguhnya.”

Jangan kita hanya berteori lantas tidak ada praktik yang bisa diaplikasikan di masyarakat.
“untuk itu saya harapkan kepada siswa yang ikut pramuka ini agar ada makna yang bisa dipetik setiap pertemuanya”, tegas Wahyudi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *