Mengejar Bulan Lebih Indah daripada Mengejar Matahari

ByAdmin Kana

Nov 30, 2022
Bagikan :

Kananews.net-Opini–Sittiarah, tak pernah lelah mengedukasi dan mengajak warga di Allu Tarowang, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto untuk melakukan vaksinasi dan imunisasi anak. Sebagai kader sosialisasi vaksinasi dan imunisasi sering mendapat penolakan bahkan stigma dari masyarakat.

“Tabe’(permisi) Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua. Ku sampaikan ki semua, ini himbauan dari pemerintah. Pergi vaksin ke Puskesmas atau di tempat layanan kesehatan yang disiapkan. Jangan ki lupa juga bawa anak ta untuk imunisasi,” ujar Sittiara menggunakan dialek bahasa daerah setempat.

Sebagai kader sosialisasi atau edukasi, Sittiara membantu fasilitas kesehatan untuk memberikan informasi terkait penyadaran akan pentingnya vaksinasi dan imunisasi kepada masyarakat, terutama di lingkungan ia tinggal.

“Itu vaksin dan imunisasi bagus untuk kesehatan. Imunisasi baik untuk kekebalan anak ta,” himbau Sittiara saat melakukan edukasi.

Sosialisasi dan edukasi sering dilakukan Sittiarah di kantor desa, lapangan, bahkan dor to dor ke rumah-rumah warga. Apa yang dilakukan Sittiarah, bukan pekerjaan mudah, bahkan beberapa kali mendapatkan stigma atau penolakan warga, bahkan dihindari saat hendak melakukan sosialisasi.

“Tidak mau ja saya pergi imunisasi anakku. Biasa itu imunisasi tidak jelas dan anakku sering sakit (panas) kalau sudah imunisasi,” ungkap Sittiara menirukan saat mendapat penolakan warga Allu Tarowang.

Sebagai seorang kader edukasi vaksinasi dan imunisasi, Sittiarah menganggap masyarakat Allu Tarowang, Kabupaten Jeneponto masih kurang memahami manfaat dari vaksin ataupun inovasi sehingga pandangannya masih dianggap tabu.

“Memang pernah mendapatkan stigma masyarakat, ketika berkunjung dianggap tabuh. Dihindari saat mau sosialisasi,” terangnya.

“Saya tidak mau disuntik vaksin. Kalau sudah di vaksin cepat meninggal. Saya tidak mau vaksin, tunggu-tunggu mi 3 tahun ke depan meninggal mi,” ujar Sittiara menirukan  pernyataan warga.

“Anggapannya vaksin itu racun,” katanya.

Meski demikian, Sittiarah tetap menghadapi hal tersebut dengan kepala dingin dan mengambil langkah positif dan memberikan pemahaman secara rasional.

“Saya tidak mengundang keributan, sabar dan terus mengedukasi dan mengajak untuk vaksinasi dan imunisasi,” terangnya.

Perlakuan stigma dialami pada Agustus 2022. Bagi seorang kader, Sittiarah memiliki jiwa juang yang luar biasa tidak pernah surut semangatnya. Selain karena membantu fasilitas kesehatan dan mencari Ridho Tuhan, ia semakin mengeluarkan rasa optimisnya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang vaksinasi dan imunisasi.

“Sehingga pada akhirnya masyarakat dengan sendirinya menyadari bahwa vaksinasi dan imunisasi itu penting untuk menjaga kekebalan tubuh seseorang dari penyakit yang akan menyerang sewaktu-waktu,” ujar Sittiarah dengan optimis.

Perjuangan Sittiarah, sebagai kader sosialisasi vaksinasi dan imunisasi kerjasama Jenewa dan Unicef membuahkan hasil. Sosialisasi dilakukan sejak bulan Juli 2022 hingga saat ini. Masyarakat mulai sadar, jika vaksinasi dan imunisasi itu baik untuk kesehatan, juga terutama kekebalan tubuh.

“Saat ini masyarakat perlahan ikut vaksin. Untuk imunisasi anak meningkat, yang dulunya banyak yang malas imunisasi dan tidak teratur,” ungkapnya.

Sittirah berpesan, bahwa tetaplah melangkah pada jalan yang benar. Karena ketika tiba saatnya kebenaran akan menyertai, jangan pernah putus asa dengan problema yang ada sebab setiap masalah pasti ada solusinya.

“Mengejar Bulan lebih indah daripada mengejar Matahari.” (*)

PENULIS:

Kaharuddin (PD Aisyiyah Jeneponto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *