Silaturrahim ke YAPTI, Dr. Saharuddin Daming, S.H., M.H., Memiliki Harapan Besar Terhadap Juniornya

Bagikan :

Makassar, kananews.net – Dr. Saharuddin Daming, S.H., M.H. yang terlahir ke Dunia ini dapat melihat indahnya alam namun diusia 2 tahun mengalami Step (mata tinggi) yang berdampak pada penurunan daya penglihatan. Namun itu tidak menghalanginya untuk menyelesaikan pendidikannya hingga menempuh Strata 3 di Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan selesai 2009 lalu.

Semangat inilah yang ingin diwariskan kepada juniornya di YAPTI, iya mengungkapkan:
“Diyapti ini sebagai wadah untuk mengasah keterampilan ataupun skill yang kita bawa ketika kita sudah selesai di tempat ini, untuk itu kepada anak-anak maupun adik-adikku pergunakan memangmi waktu untuk belajar selama kita masih di lingkup yayasan ini.” Tegas Saharuddin atau yang biasa disapa kak Andi kepada para binaan Jumat, 11 November kemarin.

Tak hanya sampai disitu kak Andi menceritakan prestasi-prestasinya selama menimbah ilmu di SMA Datuk Ribandang Makassar hingga lulus tahun 1988, dimasa itu kita masih memperjuangkan tunanetra untuk menimbah ilmu di sekolah umum, karena diskriminasi masih terpampang diberbagai lembaga.

“ya diskriminasi masih terpampang diberbagai lembaga, karena waktu saya sekolah masih banyak yang meragukan belajar saya, seiring waktu terus berputar maka saya bisa menunjukkan kepada publik prestasi yang saya raih yaitu Rangking 1 Umum di SMA Datuk Ribandang dan Rangking 1 rayon saat ujian di SMAN 4 Makassar.” Sambungnya.

Diselah-selah pidatonya kak Andi menghubungi beberapa mahasiswanya untuk testimoni di hadapan binaan YAPTI.

Ade sebagai mahasiswa Institut agama Islam Tazkia program Hukum Ekonomi Syariah yang sudah Semester 7 mengungkapkan kebanggaannya diajar oleh Dr. Saharuddin Daming yang juga alumni UNHAS itu.

“Yang kami salut dari Dr. Saharuddin Daming punya metode tersendiri dalam perkuliahan, sehingga tidak hanya menyelesaikan kewajiban saja tapi kita dituntut untuk melihat pola pikir dari mahasiswa itu sendiri.”

Hal yang sama diungkapkan Klara salah satu mahasiswa Semester 3 Universitas Ibnu Khaldun Bogor, fakultas Hukum, menurutnya: setiap materi demi materi yang disajikan itu dikupas tuntas.

Lebih lanjut klara menambahkan ilmu pengetahuan itu tidak diukur dari segi kedisabilitasan melainkan individunya itu sendiri.

“menurut saya, Bapak adalah salah satu dosen yang cukup menginspirasi”. Ujarnya saat dihubungi melalui telepon seluler.

Hal tersebut dipertegas oleh Ilham Rahman salah satu binaan YAPTI yang juga Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Disabilitas apapun itu tidak dilihat dari kedisabilitasannya, melainkan kontribusi kita terhadap masyarakat. “ketika kita memiliki kontribusi kepada masyarakat tertentu maka kita sangat dihargai, prestasi yang kita miliki belum tentu orang lain bisa lakukan bukan hanya tunanetra, orang awas pun tidak akan mungkin mendapatkan prestasi seperti itu.” Tutupnya.

Diakhir dari pertemuan tersebut Kak andi menegaskan untuk tetap belajar dan tetap mengingat yayasan ini ketika kamu sudah sukses dimasa akan datang nantinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *