Persoalan Kekerasan Tak Kunjung Usai, Mengapa Tak Jadikan Islam Sebagai Solusi ?

BySang Pencerah

Okt 12, 2022
Bagikan :

Maros, kananews.net – Menteri Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga Mengajak masyarakat berani angkat bicara apabila menjadi korban atau sebagai saksi pelecehan seksual ke perempuan dan anak, dengan tujuan untuk memberikan keadilan terhadap korban dan efek jera untuk pelaku. ( Kompas.com , 25/09/2022 )

Tidak Cukup Hanya Dengan Speak up

Speak up atas kekerasan memang suatu keharusan bagi korban ataupun saksi, namun untuk menuntaskan persoalan kekerasan tidak cukup hanya dengan speak up, apalagi sudah ada banyak regulasi yang disahkan di negeri ini. Banyaknya regulasi yang disahkan, satupun regulasi tidak berdaya karena negara tidak memberikan dukungan berupa sistem kehidupan yang mendorong terbentuknya keluarga sakinah mawadah warahmah.

Mirisnya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mencatat, laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Angka laporan kasus kekerasan terhadap anak tercacat meningkat dari 11.057 kasus pada 2019, dari 11.278 kasus pada 2020, dan menjadi 14.417 kasus pada 2021. Jumlah korban kekerasan terhadap anak juga meningkat dari 12.285 pada 2019, dari 12.245 pada 2020, dan menjadi 15.972. Sementara itu, angka laporan kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat dari 8.864 kasus pada 2019, dari 8.686 kasus pada 2020, menjadi 10.247 kasus pada 2021. Jumlah kekerasan terhadap perempuan juga meningkat dari 8.947 pada 2019, 8.673 pada 2020, lalu menjadi 10.368 pada 2021 ( Kompas.com , 20/01/2022 ). Belum lagi jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terus meningkat, ada 17.211 kasus pada tahun 2022.

Bukti Gagalnya Kehidupan Sosial

Ketika kita melihat secara mendalam, sangat jelas terlihat bahwa akibat tak kunjung usainya persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan sebuah indikasi kegagalan sistem ideologi kapitalisme dalam kehidupan sosial, dan juga sebagai bukti amoralnya manusia dalam berprilaku.

Undang-undang yang mengenai kekerasan terhadap perempuan dan anak juga dibuat berlandaskan liberalisme, aturan itu hanya menyentuh tindakan kekerasannya saja bukan akar atau pokok persoalannya, sehingga tidak heran jika tahun ke tahun jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terus meningkat meski telah banyak regulasi yang disahkan.

Sedangkan akar permasalahan yang sesungguhnya yaitu tidak adanya perlindungan terhadap perempuan dan anak itu sendiri, baik oleh negara, masyarakat, maupun keluarga. Hal ini sebagai akibat diterapkannya sistem ideologis kapitalisme yang terbukti mengeksploitasi perempuan dan anak untuk kepentingan materi semata. Sistem kapitalisme merupakan sistem buatan manusia yang merusak dan penuh kepentingan yang tidak bermanfaat.

Sistem inilah yang memiliki visi dan misi bahwa kehidupan dunia ini adalah kehidupan dalam rangka meraih keuntungan sebesar-besarnya. Aturannya yang liberalisme membuat manusia tidak lebih berharga dari harga sebuah barang, suatu kewajaran apabila pada perempuan dan anak dalam sistem kapitalisme ini terhina, menjadi objek bisnis yang diperjual-belikan dan dieksploitasi layaknya barang dagangan. Faktanya hampir 100% iklan menggunakan perempuan yang diekspos sisi kewanitaannya.

Dengan sistem ini pula, kondisi keluarga tak lagi aman dari kekerasan, kejahatan seksual, dan bahkan konflik rumah tangga. Perilaku kejahatan banyak dilakukan anggota keluarga sendiri, padahal seharusnya keluargalah yang menjadi tempat aman.

Tuntaskan Kekerasan Dengan Sistem Islam

Dari realitas yang terjadi saat ini, tentu tanggung jawab untuk melindungi perempuan dan anak tidak bisa hanya diserahkan kepada keluarga. Sesungguhnya negara memiliki peran utama dalam memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak. Karena negara mampu melakukan perlindungan hakiki dengan seperangkat aturannya yang bersifat mengikat, tentunya negara yang dimaksud yaitu negara Islam (Daulah Islamiyah).

Dalam Islam, perempuan harus dimuliakan, dijaga martabat dan kehormatannya. Islam sangat mengharamkan segala bentuk kekerasan dan penindasan termasuk kejahatan seksual. Kapabilitas Islam dalam memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak dari pelecehan dan kekerasan dapat dilihat dari rekaman sejarah peradaban Islam.

Dimana Al-Mu‘tashim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika budak muslimah itu berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Budak muslimah itu kemudian berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu‘tashim Billah. Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan tersebut, sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu prajuritnya untuk menyerbu kota tempat tinggal orang Romawi yang melecehkan budak muslimah itu.

Konsep-konsep terkait perlindungan dan jaminan terhadap perempuan dan anak dalam hak-hak dasar sebagai manusia dapat ditemukan dalam banyak literatur-literatur Islam. Islam melindungi perempuan dari kekerasan melalui aturan-aturan dan kebijakan seperti, 1). Penerapan aturan-aturan Islam yang dikhususkan untuk menjaga kehormatan perempuan. 2). Penerapan aturan-aturan Islam terkait batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. 3). Penerapan sanksi berat yang memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah bagi yang bukan pelaku dari kasus yang serupa. 4). Perintah mempergauli istri dan anak secara makruf dan larangan mempergauli secara mungkar.

Jelaslah bahwa hanya Sistem Islam lah yang sempurna dan yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi perempuan dan anak dengan tuntas dan jelas. Betapa sempurna Islam sebagai suatu sistem kehidupan. Tentunya jika sistem Islam benar-benar diterapkan dalam kehidupan, perempuan dan anak akan terjaga dan terjamin keselamatannya. Alhasil, Hanya Nilai- nilai Islamlah yang mampu mewujudkannya melalui penerapan sistem Islam yang sempurna.

Wallahu‘alam Bisshawab..

Oleh : Sartika
(Tim Pena Ideologis Maros)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *