Gelar Kajian Rutin, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mutahabbun Bulukumba Kunjungi Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia

Bagikan :

Makassar, kananews.net – Ikatan tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) menggelar kajian rutin pada Kamis, 18 Shafar 1444 Hijriyah/ 15 September 2022 Miladiah kemarin, yang diikuti oleh alumni dan binaan Yayasan pembinaan tunanetra Indonesia di Musholla Tarbiatul Ittihadul Umma mengusung tema: “Meneladani Adab dan Akhlak Baginda Nabi Muhammad SAW.” Sambutan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang menjadi rutinitas sebelum kajian dimulai.

Hamzah M. Yamin S.S. Dalam sambutannya mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada teman-teman binaan dan alumni yang sempat hadir dalam silaturrahmi sekaligus dirangkaikan dengan pengajian rutin.

“ini menjadi harapan kita bagaimana kajian rutin bisa menjadi alat silaturrahmi diantara kita, saya berharap kepada para panitia penyelenggara agar undangan bisa lebih ditingkatkan supaya semakin dijangkau oleh teman-teman kita, karena masih ada teman-teman yang tidak terjangkau informasi kapan dan hari apa itu pengajian dilaksanakan.

Saya mewakili panitia penyelenggara memohon maaf atas tidak terselenggaranya pengajian bulan lalu karena ada beberapa kesibukan sehingga kajian bulan lalu tak dapat di selenggarakan, kita berdoa supaya bulan-bulan berikutnya kajian ini bisa terselenggara dengan baik tegas ketua ikatan tunanetra muslim Indonesia ini.”

Dilain pihak Ustadz Muslim Bahar, S.Pd.I., M.Pd. dalam ceramahnya menceritakan Nabi Saw berdakwah mengukir sejarah, pasalnya ketika melangsungkan dakwahnya malah ditinggalkan, dilempar batu, dikalungi dengan usus binatang dan berbagai macamnya, ini sebagai penyemangat kita untuk memperjuangkan agama ini.

“kalau kita melihat sejarah Nabi SAW kita belum berdakwah saat ini tetapi Nabi SAW berdakwah meninggalkan Mesjit sebagai sejarah oleh karena itu: kalau kita mau meninggalkan sejarah, sejarah yang terbaik adalah sejarah kembali ke Masjid” tegas Ustadz Muslim Bahar atau yang biasa disapa kak Miming.

Lebih lanjut beliau mengungkapkan, tidak ada peradaban besar yang tidak berawal dari Masjid jadi jangan membatasi fungsi Masjid yang hanya didatangi untuk salat 5 waktu, jadikan Masjid sebagai Masjid pergerakan untuk menolong agama Allah SWT, paparnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.