Keteladanan dari Hj Rabihah

Bagikan :

Makassar, kananews.net – Saya mengenal almarhumah, ibu Hj.Rabihah, istri allahuyarham KH Djamaluddin Amien, yang wafat 12 Juni 2022 (tadi malam), sejak tahun 1992 saat masih MABA Unismuh Makassar pada Fakultas Ushuluddin (sebelum melebur menjadi FAI Prodi KPI 1994) saat itu untuk pertama kalinya saya mengenal almarhumah ketika mengantar seorang teman MABA asal Bali yang hendak masuk Islam di rumah Pak Kyai bilangan Jl Sultan Alauddin, samping MAN Model sekarang.

Di antara 800 MABA kala itu, ada Iwayan Sulastri, MABA yang mendaftar di Fakultas Tarbiyah tapi masih beragama Hindu saat ikut OPSPEK di Kampus II Mappaoddang, dengan niat mau masuk Islam. Karena bertetangga kost di Jl Kumala, maka saya diminta temani ke rumah Pak Kyai yang saat itu menjabat Rektor Unismuh Makassar, selanjutnya Pak Membimbing Iwayan masuk Islam di Masjid Raya Makassar.

Seiring waktu, saya mengenal lebih dekat dan akrab dengan almarhumah, setelah suatu pagi di hari Selasa tahun 2006, pak Kyai (Ketua BPH) bersama Pak Ali Hakka (sekretaris BPH) menjemput saya di rumah kontrakan kami di Minasa Upa Blok K No.14 untuk ke Bissoloro, melihat lahan 75 hektar yang baru saja di Beli Unismuh, setiba di lokasi, kami observasi lahan, ketemu dan berbincang dengan seorang pengembala kambing usia SD, diajak berdialog oleh Pak Kyai, sekolah di mana, mengaji di mana, apa agama mu, semua pertanyaan itu dijawab dengan satu jawaban dalam bahasa Makassar ‘tena’ artinya tidak ada. Usai Dialog itu, Pak Kyai langsung nyatakan niatnya pada Pak Ali Hakka, baiknya kita dirikan pesantren di sini dan Dahlan tolong siapkan Proposal Pendirian Pesantren membina SMP, yang selanjutnya oleh Rektor, H.Irwan Akib menetapkan sebagai Lab School Unismuh Makassar di Bissoloro.

Sejak itulah, hampir setiap pekan sesudah shalat shubuh saya ke rumah Pak Kyai dan selalu bertemu dengan almarhumah di Jl Tala’salapang untuk berkonsultasi dan penandatanganan surat perihal hal ihwal terkait dengan Pesantren Unismuh di Bissoloro, dari pertemuan ke pertemuan hingga pak Kyai wafat tahun 2016, Kesan yang sangat kuat dan melekat dari almarhumah antara lain:

1. Keramahan khas orang pendiam. Keramahan almarhumah dapat dilihat dari sikap perhatian dan penuh riang pada tamunya yang tergambar dari gestur tubuhnya, seraya mempersilahkan masuk rumah dan membukakan pintu.

2. Posisi Gelas Saat Suguhkan Teh Hangat, dengan memperhatikan posisi gelas dengan posisi duduk saya, kesan yang saya tangkap, almarhumah tidak mau menyulitkan orang sehingga tempat pegangan gelas pun diputarnya hingga persis di posisi tangan kanan saya, dan tentu ini berlaku untuk tamu pak Kyai yang lainnya.

3.Pemurah dan Penyayang. Setiap kali pamit, biasanya almarhumah bertanya, mauki ke Bissoloro, apabila jawaban iye, maka dengan segera almarhumah memasukkan roti di gerai jualannya di kantongan untuk dibawakan santri di Bissoloro yang umumnya yatim dan dhuafa. Kebiasaan yang sama apabila saya bersama Pak Kyai ke Pondok selalu ada pemberiannya.

Demikian antara lain kesan yang mendalam dari kebaikan almarhumah, teriring do’a: Allahunmaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fuanha.
Wassalam. Makassar, 13 Juni 2022. (*)

(Dahlan LB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.