CAHAYA JURNALISTIK DI AL-QUR’AN

Bagikan :

Urgensi Jurnalistik di era Global

Kananews.net – Di era media online yang beritanya menjamur, masyarakat yang budaya literasinya rendah tampak gagap dan tergopoh-gopoh menghadapinya. Parahnya, saat ini berita hoax kian menyebar tanpa filter. Berita hoax adalah berita palsu yang ditujukan untuk menipu atau mengakali pembaca dan pendengarnya untuk mempercayai sesuatu. Fakta melimpahnya “lautan informasi” adalah siklus sejarah kehidupan yang terus berulang dan direkam Al-Qur’an dan Hadits. Satu contoh, klarifikasi (tabayyun) yang dialkukan oleh nabi Sulaiman tentang berita yang dibawa ajudannya, burung hud-hud, telah menyelamatkan negeri dan rakyat Saba’ dari serangan pasukannya (Qs Al_Naml:22-27).

Pesatnya arus informasi, membuat dunia jurnalistik semakin terasa penting kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. Dalam konteks negara dengan jurnalistik, masyarakat menjadi tahu akan informasi apa saja yang dilakukann oleh pemerintah. Khususnya berita-berita terkait langsung dengan hak-hak masyarakat. Apalagi dengan adanya frasa “hak masyarakat harus tahu”, jurnalistik semakin memiliki makna yang benar-benar mengakar di masyarakat. Yaitu apa yang ada pada zaman modern ini disebut sebagai transparansi dalam pemerintahan yang menjadi kepedulian kita semua. Yang berarti menyangkut hajat hidup khalayak umum (rakyat).tidak sekedar hak untuk tahu, lebih mendasar lagi hak untuk menerima informasi dengan benar.

Hak menerima informasi dengan benar dilindungi Undang-Undang Hak Asasi manusia (UU HAM), pasal 19, yang menyebutkan : setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat. Dalam hal ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima, menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas (wilayah). Namun begitu, kebebasan dimaksud juga dilihat dari sisi orang lain yang juga tidak boleh terlanggar hak-hak pribadi dan kehidupannya.

Pers di Zaman Modern

Seiring dengan perkembangan zaman dan majunya teknologi, kebutuhan informasi terus meningkat. Hal ini membuat orang mulai berpikir untuk menyajikan informasi secara lebih baik. Maka dikenallah “Media Massa” (Mass Media), yang di dalaamnya melibatkan banyak unsur-unsur yang saling merangkai, supaya dapat menghasilkan sebuah produk jurnalistik. Hal itu tidak lepas dari pengaruh pemilik modal, wartawan, penerima, informasi (pangsa pasar), dan pemerintah negara setempat.

Di zaman modern, tak terkecuali di Indonesia, terlebih pasca runtuhnya pemerintahan “fasis” orde baru, kebebasan berpendapat dan informasi (baca:kebebasan pers) dipandang sebagai pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislative, dan yudikatif. Hal itu, sejalan dengan tujuan reformasi, yaitu terciptanya iklim komunikasi yang kondusif bagi penyelenggaraan proses demokrasi parsipatoris (participatory democracy). Sebuah kondisi dimana keragaman pendapat diterima sebagai suatu kewajaran, dan pencapaian consensus dipandang sebagai suatu cara yang harus diupayakan untuk kepentingan bersama

Ayat-ayat Jurnalistik dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an mengintroduksikan dirinya sebagai “pemberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus,” QS. Al-Isra’:19). Petunjuk-petunjuknya bertujuan memberi kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. Dan karena itu ditemukan petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kedua tujuan tersebut. Rasulullah saw, yang dalam hal ini bertindak sebagai penerima wahyu Al-Qur’an, bertugas menyampaikan petunjuk-petunjuk tersebut, menyucikan dan dan mengajarkannya kepada manusia, (Al-Mulk:2).

Rasulullah sebagai penerima Al-Qur’an dapat dianalogikan dengan pembawa kabar (berita) seperti yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an:  “dan tidaklah kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan;tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan batil, agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan pernyataan-pernyataan mereka sebagai olokolokan.(Al-Kahfi:56).

Dalam Al-Qur’an, kedudukan berita tidak dapat diremehkan. Ini terlihat dari 114 surat yang ada di dalam Al-Qur’an, 33 surat di antaranya memuat 66 kata berita dari 66 ayat. Meskipun tidak semuanya dapat disebut sebagai ayat-ayat yang mempunyai unsur-unsur dan sebagai dan bermakna jurnalistik. Surat-surat dan ayat-ayat lain yang tidak ada kata beritanya, di dalamnya juga tidak menutup kemungkinan mengandung unsur-unsur dan bermakna jurnalistik. Surat-suat yang memuat ayat yang menggunakan kata berita di dalamnya adalah Ali Imran:44; An-Nisa:83,165; Al-Maidah:19,41,42; Al-An’am:5,34,67; Al-A’raf:57,101,175,185,188; At-Taubah:70; Yunus64,71; Hud:71,74,49,100; Yusuf:87,102; Ibrahim:9; Al-Hijr:18,54; An-Nahl:59; An-Nur:11,12,13,14,15,16,19; Asy-Syu’ara: 6,221; An-Naml:2,22; Al-Qashas:29; Ar-Rum:46, Luqman:15; Al-Ahzab:20,47,60; Saba’:7, 28; Fathir:24; Az-Zumar:7,17; Fushilat:4,50; Shad: 21,67,88; Al-Fath: 8; Al-Hujurat:6; An-Najm:59; Al-Qomar:28; Al-Mujadilah:6,7; Al-Jumat:8; At-Taghabun:5,7 dan An-Naba’:2.

Korelasi Jurnalistik dalam Islam

Secara umum, jurnalistik-pers (media massa) mempunyai peran dan fungsi penting dalam masyarakat. Pertama, pemberi informasi dan Pendidikan. Kedua, hiburan (entertainer). Ketiga, pengawasan (social control). Dari ketiga fungsi ini, fungsi yang ketiganya yang terpenting dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Ketiga fungsi itu sesuai dengan kandungan dalam ayat 83, surat An-Nisa. Untuk menghindari kesalahpahaman informasi, para ulil amri dan orang alim setempat brkewajiban memberi pengertia. Sesuai dengan pengetahuan yang dikuasai.

Penguasa atau pemimpin yang sewenang-wenang, jelas bertentangan dengan semangat kepemimpinan Nabi Muhammad saw, yang menginginkan adanya keterbukaan anraumat yang dipimpinnya. Al-Qur’an juga mengatakan agar saling nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, surat Al-‘Ashr, ayat 3.

Sayangnya, kemajuan teknologi komunikasi, ilmu pengetahuan, teknologi computer, serta internet masih digenggam oleh bangsa-bangsa Barat dan Timur non Islam yang secular-materialistik. Akibatnya khazanah pemikiran dan gaya hidup mayoritas rakyat di negara-negara berkembang dan negara miskin dikuasai dimanipuasi dan direkayasa sedemikian rupa sesuai keinginan, visi, dan misi mereka sehingga wartwawan muslim dan media yang dikuasai oleh umat Islam masih sangat minim. Ini dipengaruhi oleh peran, hubungan, proses, serta aktivitas-aktivitas sehari-hari pada masyarakat yang cenderung memiliki budaya membaca dan tulis menulis yang rendah. Kebanyakan mereka menganggap urusan dunia tidak sepenting urusan akhirat. Sehingga cenderung mengabaikan urusan duniawi.

Cahaya Islam dalam jurnalistik harus terus diupayakan agar nilai-nilai ajaran Islam yang terdapat di dalam Al-Qur’an ruhnya bisa kembali juga apa yang telah disabdakan atau diberitakan oleh Nabi Muhammad saw bisa kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari dengan cerah dan mencerahkan.

Sumber : Suara Muhammadiyah edisi no.02 th ke-102, hal:24. Belajar Jurnalistik dari nilai-nilai Al-Qur’an.

Sandi Ibnu Syam (Pembina Pontren-Mu Darul Arqam Balebo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.