Melawan Hawa Nafsu

Bagikan :

kananews.net – Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Al-Qashash:50).

Mengikuti nafsu yang tercela, bisa dalam masalah beragama (penyakit syubhat) atau dalam masalah syahwat dunia (penyakit syahwat), atau dalam kedua penyakit tersebut sekaligus.

Jika terkait dengan nafsu jenis syubhat, maka bisa sampai menjerumuskan seseorang ke dalam status ahli bid’ah dan dinamakan ahlul ahwa`. Dan kebiasaan salaf menamai ahli bid’ah dengan nama ahlul ahwa`.

Adapun nafsu jenis syahwat, maka terbagi dua, yaitu dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, dan pakaian dan bisa juga dalam perkara yang diharamkan, seperti zina, khamr, dan pelakunya dinamakan dengan fajir, fasiq, atau pelaku maksiat.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Seluruh maksiat tumbuh dari sikap mendahulukan hawa nafsu di atas kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”,

Beliau juga berkata,
“Dan demikian pula bid’ah, sesungguhnya bid’ah hanyalah muncul dari sikap mendahulukan nafsu di atas syari’at, oleh karena itu mereka disebut dengan ahlul ahwa`. Demikian pula kemaksiatan, sesungguhnya maksiat hanyalah terjadi karena sikap mendahulukan nafsu di atas kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada apa yang Dia cintai”. (Jami’ul Uluum wal Hikam: 2/397-398).

Jihad merupakan bagian dari ibadah yang tinggi nilainya. Namun Jihad yang sebenarnya adalah yang dapat memerangi hawa nafsunya.

Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi dalam kitabnya Fadilah Haji menuliskan hadits lain dikatakan: “Mujahid yang sebenarnya adalah orang yang memerangi hawa nafsunya dan mengalahkannya.” (At-Tasarruf).

Syekh Muhammad Zakariyya menyampaikan  di dalam istilah para sufi hal itu dinamakan jihad akbar. Rasulullah saw juga bersabda seperti itu. Allamah Syami rah.a berkata. “Keutamaan jihad sangat banyak.

“Betapa tidak karena sesuatu yang paling dicintai manusia yakni nyawa dikorbankan di jalan Allah SWT dan demi mendapat ridho Allah ia menanggung segala penderitaan,” katanya.

Dan yang lebih tinggi dari jihad adalah melawan hawa nafsu untuk taat kepada Allah SWT dan menyelamatkannya dari keinginan-keinginannya. Oleh karena itu, ketika Rasulullah SAW kembali dari suatu peperangan beliau bersabda. “Kita kembali dari jihad yang kecil menuju jihad besar.”

Dalam riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Jabir r.a. berapa orang yang baru pulang dari perang datang kepada Rasulullah SAW Rasulullah SAW bersabda. “Kedatangan kalian sangat bagus karena kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar, yakni mujahadah seorang hamba terhadap nafsunya sendiri.” (At-Tasyarruf:2).

Maka dari itu, apabila mereka mencampakkan diri mereka dalam kesusahan, maka tidak ada penentang lagi. Mencampakkan diri dalam kesusahan demi untuk mengalahkan musuh mendatangkan pahala, bukannya malah ditentang.
Rasulullah SAW bersabda: “Musuhmu yang paling besar adalah nafsumu sendiri yang berada di antara dua lambungmu.”
Oleh karena itu dalam mengalahkan musuh; apabila seseorang membenarkan dirinya kelaparan, kehausan dan menampakan dirinya dalam bahaya dan penderita, maka itu sangat disukai selama tidak menyebabkan kemunduran dalam tugas-tugas agama lainnya yang sangat penting.

Semoga Allah SWT memberikan kepada kita, keberkahan dan pencerahan rohani. Dia Maha Pemurah dan Maha Pemberi kepada siapa yang dia kehendaki.

(Source: www.republika.com, www.pwmu.com www.muslim.or.id, www.tirto.com)

والله اعلم بالصواب

Mari istiqomah dalam beribadah

U_Ibe’ Lapatongai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.