Ketaatan dan Sikap Kritis kepada Penguasa

ByAdmin Kana

Mar 31, 2022
Bagikan :

kananews.net – Rasulullah SAW bersabda:

عن أُمِّ المؤمنين أم سلمة هند بنت أَبي أمية حذيفة رضي الله عنها، عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم أنه قَالَ: ((إنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعرِفُونَ وتُنْكِرُونَ، فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ أنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ)) قَالوا: يَا رَسُول اللهِ، ألا نُقَاتِلهم؟ قَالَ: ((لا، مَا أَقَامُوا فيكُمُ الصَّلاةَ)). رواه مسلم.

Dari Ummui mu’minin iaitu Ummu Salamah yakni Hindun binti Abu Umayyah yakni Hudzaifah radhiallahu ‘anha, beliau s.a.w. bersabda:
“Bahawasanya saja nanti itu akan digunakanlah beberapa pemimpin negara – amir-amir, maka engkau semua akan menyetujui mereka, kerana kelakuan mereka itu sebahagian ada yang sesuai dengan syariat agama, tetapi engkau semua pun akan mengingkari mereka-sebab ada pula kelakuan-kelakuan mereka yang melanggar syariat agama.
Maka barangsiapa yang benci – dengan hatinya, ia terlepaslah dari dosa, juga barangsiapa yang mengingkari, ia pun selamat – dari siksa akhirat. Tetapi barangsiapa yang redha serta mengikuti -pemimpin-pemimpin di atas, itulah yang bermaksiat.”
Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah tidak perlu kita memerangi mereka itu?” Beliau s.a.w. bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat bersamamu semua.” (Riwayat Muslim).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1. Maknanya ialah bahwa barangsiapa yang membenci kepada pemimpin-pemimpin yang suka melanggar syariat agama itu dengan hatinya, kerana tidak kuasa mengingkari mereka dengan tangan atau lisannya, maka ia telah terlepas dari dosa dan ia telah pula menunaikan tugasnya.
2. Juga barangsiapa yang mengingkari dengan sekadar kekuatannya, ia pun selamat dari kemaksiatan ini.
3. Tetapi barangsiapa yang redha dengan kelakuan-kelakuan mereka serta mengikuti jejak mereka, maka itulah orang yang bermaksiat.
4. Mengomentari hadis di atas, Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan: yakni siapa yang membenci kemungkaran itu, maka dia terbebas dari dosa dan sanksinya. Ini bagi orang yang tidak mampu mengingkari kemungkaran penguasa dengan tangannya dan tidak pula dengan lisannya.
5. “Wa lakin man radhiya wa tâba’a” bermakna: Akan tetapi, dosa dan sanksi itu atas orang yang rida dan mengikuti (kemungkarannya). 6- Di sini ada dalil bahwa orang yang tidak mampu menghilangkan kemungkaran, ia tidak berdosa semata karena diam, melainkan dia berdosa karena rida terhadap kemungkarannya atau tidak membenci kemungkarannya dengan hatinya, atau dengan mengikutinya.
7. Nasihat/kritik (muhasabah) kepada penguasa itu juga bukan karena atau demi kepentingan dunia, melainkan karena kepentingan akhirat, yakni melaksanakan kewajiban dari Allah Subhanahu wa ta’ala .
8. Sekalipun demikian, muhasabah kepada penguasa itu akan memberikan kebaikan di dunia. Sebab dengan itu, masyarakat biasa terhindar dari keburukan akibat kemungkaran penguasanya.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur’an:

Ketika pemimpin atau penguasa itu melakukan kemungkaran, artinya dia melakukan kezaliman. Dalam hal yang demikian, haram mendukung kezaliman itu. Jangankan mendukung, bahkan sekadar cenderung kepada pelaku kezaliman saja haram dan konsekuensinya sangat berat.

وَلاَ تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لاَ تُنصَرُونَ

“Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah. Kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.” (TQS Hud [11]: 113).

(U_Mawardy P)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *