Hati yang Mati

Bagikan :

kananews.net – Hati yang mati merupakan hati yang jauh dengan Rabb-nya. Maksiat atau perbuatan yang dilarang Allah ﷻ telah menutupi hatinya sehingga bisa sekeras batu bahkan lebih dari itu. Hati-hati ini adalah milik orang-orang dengan golongan seperti, orang-orang yang hatinya sakit karena berbuat syirik kepada Allah, orang-orang yang hatiya buta karena tidak mau melihat kebenaran Allah ﷻ, hati terganggu yang tidak menyadari penciptanya dan jauh dari Alquran dan hati pendosa yang menerobos larangan Allah ﷻ tanpa rasa takut. 

Ada juga hati yang keras yang tidak berupaya untuk melunakkan diri sebesar apapun kebenaran telah diperlihatkan. Kemudian ada juga hati yang sesat atau orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Allah SWT berfirman:

خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ࣖ

“Allah SWT telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat,” (Al Baqarah ayat 7).

Khatamallahu, menurut As-Saddi maknanya ialah “Allah mengunci mati.” Menurut Qatadah, ayat ini bermakna “Setan telah menguasai mereka, mengingat mereka taat kepada keinginan Setan, maka Allah mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka terdapat penutup. Mereka tidak dapat melihat jalan hidayah, tidak dapat mendengarnya, tidak dapat memahaminya, dan tidak dapat memikirkannya”.

Allah menutup hati dengan penutup yang sangat tebal, hakikatnya semua ini karena perbuatan dosa mereka yang terus menerus, sehingga dosa dosa inilah menutupi hati mereka, sehingga tak ada celah yang dapat dimasuki cahaya hidayah. Ketika cahaya hidayah tertutup maka akhirnya telinga, penglihatan mereka sudah enggan menginderai kebenaran dan kebaikan.

Sebagaimana Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin itu apabila berbuat suatu dosa, maka hal itu merupakan noktah hitam pada hatinya. Tetapi jika dia bertobat dan kapok serta menyesali, maka tersepuhlah hatinya (menjadi bersih kembali). Tetapi apabila dosanya bertambah, maka bertambah pulalah noktah hitam itu hingga (lama-kelamaan) menutupi hatinya, yang demikian itulah yang dimaksudkan dengan istilah ar-ran di dalam firman-Nya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi mereka.” (Al-Muthaffifin: 14) (HR. Tirmidzi)

Hati adalah kunci baik tidaknya seseorang, hati adalah motor penggerak segala yang ada dalam diri manusia, semua anggota badannya, inderanya dan fikirannya. Demikianlah kuatnya hati, sehingga tugas Nabi dalam risalahnya adalah melakukan tazkiah atau pensucian hati manusia dari segala kotoran dosa sehingga mereka menajdi manusia yang mampu berfikir, merasa dan bertindak dengan baik dan benar.

Kebersihan hati menjadi kunci kebahagiaan dunia dan akhirat, mengapa? Yang pertama karena surga hanya akan dimasuki oleh mereka yang bersih hatinya. Kedua dengan kebersihan hati semua manusia akan melepaskan kepentingan sahwatnya berlebihan, sehingga dia akan selalu berjalan pada jalan kebenaran. Bukan menjadikan profesinya untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang merugikan kehidupan manusia dan lingkungan. Dengan kebersihan hati manusia akan mendapatkan kebahagiaan totalitas, kebahagiaan duniawi dan ukhrowi.

(Source: www.risalahislam.com, www.unida.gontor.ac.id, www.muslim.or.id, www.islampos.com)

والله اعلم بالصواب

Mari istiqomah dalam beribadah.

(U_Ibe’ Lapatongai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.