Kearifan Lokal, Menjaga Lingkungan dan Kemajuan Teknologi

Bagikan :

Oleh: Firdaus Abdul Rahim (Pengurus Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Sulsel dan Anggota FLP Makassar)

kananews.net – Komunitas REMPA (Ruang Seni Kreatif Perempuan) bekerjasama dengan MAIM (Makassar Art Intiative Movement) mengajak teman-teman disabilitas mengunjungi wisata Leang-Leang yang terletak di Kabupaten Maros pada Sabtu, 9 Oktober yang lalu. Kunjungan tersebut dalam rangka observasi lokasi dalam rangka pameran yang akan di laksanakan pada November yang lalu .

Berdasarkan penjelasan dari laman Wikipedia mengenai sejarah Leang-Leang bahwa Taman Prasejarah Leang-Leang atau juga dikenal Taman Purbakala Leang-Leang adalah salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Maros dan Sulawesi Selatan yang menyajikan wisata edukasi tentang kepurbakalaan. Kata “Leang-Leang” dalam bahasa setempat (Bugis-Makassar) memiliki makna “gua”. Di taman ini terdapat banyak gua prasejarah yang menyimpan peninggalan arkeologis manusia purba yang unik dan menarik. Para arkeolog berpendapat bahwa beberapa gua yang terdapat di sekitar kawasan tersebut pernah dihuni manusia sekitar 3.000-8.000 tahun SM.

Bukti keberadaan ini ditandai dengan lukisan prasejarah berupa gambar babi rusa yang sedang melompat, puluhan gambar telapak tangan yang ada pada dinding-dinding gua. Terdapat 5 buah telapak tangan manusia purbakala yang ditemukan di Gua Pettae, terdapat pula 32 bekas telapak tangan yang ditemukan di Gua Pettae. Selain lukisan prasejarah, juga terdapat benda laut berupa kerang yang menandai bahwa gua tersebut juga pernah terendam dan dikelilingi oleh laut. Keunikan lain adalah keberadaan sungai yang berada tepat di depan Gua Leang-Leang, singkapan batu kapur yang tersebar di areal persawahan penduduk, dan pemandangan Puncak Bulusaraung dari atas gua tersebut.

Tak hanya itu di pelataran utama dari objek wisata ini kita di perlihatkan patung-patung yang terbentuk dari batu alam ada yang berbentuk manusia dan ada yang berbentuk binatang. Patung-patung itu menjadi saksi sejara tentang nenek-nenek moyang kita dari masa ke masa. Selama kami di tempat wisata tersebut kami banyak diperlihatkan kekuasaan sang pencipta, hal inilah yang ingin kami bahas bersama dengan komunitas REMPA dan MAIM.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tempat ini merupakan tempat yang dilindungi namun ada sebahagian oknum yang merusak tempat ini dengan mendirikan salahs atu prusahaan tambang marmer di dekat areah wisata tersebut, sehingga merugikan warga di sekitarnya. Olehnya itu dengan hadirnya komunitas REMPA dan MAIM dalam rangka membahas dan mecari solusi atas adanya oknum yang merusak lahan tersebut maka kami telah membuat pameran yang di laksanakan pada November pada 2021 yang lalu.

Kegiatan ini bercerita tentang sejarha Leang-Leang yang sudah dirusak demi kepentingan pribadi, olehnya itu dengan adanya pameran ini bisa menjadi edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga lingkungan. Sebagaimana kita ketahui bersama lingkungan kita sangat dipenuhi dengan polusi akibat kurangnya pepohonan yang direboisasi (penanaman ulang) dengan adanya komunitas REMPA dan MAIM membahas tentang persoalan ini kami berharap semua orang merasakan, bisa lebih bijak lagi dalam memanfaatkan sumber daya alam, utamanya kawasan yang dilindungi oleh Negara karena kawasan inilah yang menjadi objek wisata bagi kalangan luar negeri maupun kalangan dalam negeri.

Adapun manfaat dari menjaga lingkungan sekitar antara lain sebagai berikut: manusia tidak terbebani dengan polusi yang tercemar seperti asap kendaraan yang lalulalang, pabrik yang tidak berhenti membuang limbah di tempat yang bukan tempat sebenarnya dan manusia bisa menghirub udara segar.

Berbeda ketika lingkungan tercemar: bencana ada di mana-mana seperti banjir, tana longsor dan kotoran ada di mana-mana. Inilah yang membuat manusia merasa ibah dengan alam ini, dilain sisi juga manusia butu hidup dan menafkahi keluarganya. Mampukah hidup manusia tanpa alam  ini, mampuka manusia hidup tanpa merusak lingkungan?

Bagi saya itu mustahil karena manusia sudah ditakdirkan untuk menempati planet bumi dan belum bisa hidup di planet lain. Walau pun para peneliti ada yang mengatakan manusia bisa berpinda ke planet lain namun itu masih perlu pengkajian yang lebih spesifik.

Saya teringat dengan salah satu lagu Makassar dengan judul “Battuma ri Bulang.” Lagu ini menceritakan tentang angan para pendahulu dari bugis-makassar yang merupakan pelaut yang berani menjelajahi belahan bumi dengan perahu buatan lokal sampai bercita-cita penjelajahannya akan sampai ke bulan. Lirik dari lagu ini begitu kuat sampai mempengaruhi berbagai generasi untuk bisa melebarkan sayap berani berjuang dan melihat alam dengan perspektif yang begitu luas.

Dari pengaruh inilah, para ilmuwan, menjawab judul lagu tersebut dengan komik “Suatu saat kita akan sampai di bulan”. Dengan karya ini, diharapkan bisa membangun kembali spirit pendahulu supaya bisa mewujudkan apa yang menjadi angan-angan untuk sampai ke bulan dengan diteruskannya ke generasi muda untuk bisa berinovasi, mengembangkan teknologi ekspedisi hingga menjawab tantangan zaman di era yang serba canggih saat ini. Menghidupkan terus semangat kearifan lokal di tengah arus pos modernisasi dan high teknologi (hellomotion.com).

Dari uraian di atas penulis bisa menyimpulkan bahwa pentingnya kita merawat kearifan lokal termasuk lingkungan sekitar tanpa ketinggalan dengan cangginya teknologi karena tehnologi dengan kearifan lokal bisa kita padukan dengan cara membuat Festival yang bisa dilihat semua orang, dengan cara itu maka generasi melenial kita bisa belajar dari sejarah dan mempertahankan budaya-budaya bangsa ini.

Biodata Penulis:

Nama Firdaus Abdul Rahim lahir pada 1999 di Luwu Timur tepatnya di desa Lambara Harapan, Iya anak terahir dari 10 bersaudara dari pasangan Abdul Rahim dan Almarhumah Dasi. Dia seorang Disabilitas Netra Low Vision sejak lahir. Jenjang Pendidikan, SDLB-A YAPTI (2008 sampai 2014), SMPLB-A YAPTI (2014 sampai 2017), SMA Datuk Ribandang (2017 sampai 2020), 2020 sampai saat ini melanjutkan jenjang program studi di kampus Universitas Islam Makassar dengan bidang studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Anggota Forum Lingkar Pena Makassar (2019 sampai saat ini) dan anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (2009 sampai saat ini).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.