Tawakkal

Bagikan :

kananews.net – Allah SWT berfirman Q.S Ali Imran 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”

Dalam ajaran Islam, tawakal adalah membebaskan diri dari segala ketergantungan selain Allah dan menyerahkan keputusan atas segala sesuatunya hanya kepada Allah SWT. Hal ini pula yang membuat tawakal disebut sebagai perbuatan menyerahkan segala perkara, ikhtiar, dan usaha kita kepada Allah SWT

Menurut Imam Ahmad, tawakal adalah perbuatan hati, bukan amalan lisan ataupun anggota tubuh lainnya, dan juga tidak disebut sebagai pengetahuan ataupun anggapan seseorang. Maka, tawakal mengisi ruang-ruang hati, saat seorang Muslim tengah berusaha menyelesaikan amalnya hingga ia berada dalam koridor agama selama ia menyempurnakan kegiatannya.

Banyak orang yang menduga bahwa tawakal berdampak negatif dalam optimalisasi etos kerja, sebab dengan tawakal banyak didapati penganut agama yang diam berpangku tangan. Namun, sebenarnya tidaklah demikian.Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW pernah mengingatkan seorang sahabatnya yang lupa mengikatkan untanya saat masuk ke masjid. Ketika diingatkan untuk mengikatkannya, orang itu berkata bahwa ia bertawakal kepada Allah Sang Maha Pemelihara dan ia yakin untanya tidak akan lari. Namun, Rasulullah SAW lalu menyerukan, ”Ikatlah untamu terlebih dahulu dan bertawakallah!”

Itu karenanya, tawakal adalah urusan hati kepada Allah SWT, sedangkan amal perbuatan tidak pernah boleh untuk ditinggalkan. Sebab, itu Sahal bin Abdullah berkata, ”Barang siapa yang berusaha, berarti ia mengikuti sunah. Dan barang siapa yang bertawakal, berarti ia menjalankan imannya.”Dalam memahami nilai tawakal, tersebut dalam kitab Al Jami’ li Syuabil Iman bahwa Hatim Al-Asham pernah ditanya, ”Apa saja dasar pemikiranmu tentang tawakal?”

Ia menjawab, ”Dasar pemikiranku ada empat, yaitu rezekiku tidak akan dimakan orang lain, maka aku tidak begitu resah. Amalku tidak akan dikerjakan orang lain, karena akulah yang mengerjakannya. Kematian akan datang kepadaku secara tiba-tiba, maka aku harus segera mempersiapkan kebutuhannya, dan yang keempat, aku sadar bahwa diriku ini berada dalam pengawasan Allah, maka aku malu berbuat maksiat kepada-Nya.”

Inti dari ajaran nilai tawakal pada tataran sebenarnya adalah mengajak serta Allah dalam setiap laku perbuatan. Maka, saat manusia menyertakan Tuhan Sang Maha Kuasa dalam aktivitas yang ia lakukan itu berarti ia telah menggunakan sumber energi yang tiada terbatas. Inilah makna pesan ilahi yang termaktub dalam Alquran, ”Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.” (QS Ali Imran [3]: 159).

Wallahu a’lam bissawab. Mari istiqomah beribadah.

U_IBE’ LAPATONGAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.