Kasus Omicron Melonjak, Kapankah Berakhir?

ByAdmin Kana

Feb 19, 2022
Bagikan :

Oleh: Farizah Atiqah

kananews.net – Sudah memasuki tahun ke-3 kita hidup berdampingan dengan virus Covid-19. Sekarang masyarakat sudah mulai terbiasa dengan kehidupan new normal. Seperti selalu menerapkan protokol kesehatan, melakukan kegiatan secara online, menghindari kerumunan, melakukan vaksinasi, dan masih banyak lagi. Hal ini tentu membuat masyarakat berangsur-angsur merasakan kejenuhan.

Beberapa orang sudah mulai bosan memakai masker terus-menerus. Tetapi, bukan berarti kita bisa lengah dan menganggap sepele kondisi saat ini dengan dalih bahwa masyarakat sudah terbiasa dan kebal. Virus ini akan berevolusi dan semakin menyebar apabila tidak dilakukan pencegahan dan penanganan yang sesuai.

Baru-baru ini muncul varian virus Covid yang terbaru, yaitu Omicron. Kasus orang-orang yang positif pun semakin meroket setiap harinya, baik dalam negeri maupun luar negeri. Dikutip dari republika.co.id, Kementerian Kesehatan mencatat pada Kamis (3/2/2022) “ada tambahan kasus baru harian sebanyak 27.179 dengan kematian sebanyak 38 orang, melesat tajam dibanding 2 Februari di 17.895 kasus”. Apalagi, di Indonesia sekarang beberapa kegiatan sudah mulai dilakukan secara offline. Tentunya, penjagaan diri, penerapan protokol kesehatan dan antisipasi lain harus dimaksimalkan.

Lonjakan ini tentu sangat mengkhawatirkan. Jika tidak dilakukan respon yang cepat dan tepat, maka kesehatan dan nyawa masyarakat tak akan terlindungi serta pemulihan ekonomi akan terhambat. Lalu penanganan apa yang harus dilakukan? Menunda perjalanan ke luar negeri disebut-sebut sebagai kunci untuk menangkal penyebaran virus Omicron.

Seperti yang disampaikan Juru Bicara Nasional Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito melalui tempo.co. “Salah satu peran kunci masyarakat dalam mencegah meluasnya penularan Covid-19 adalah dengan menunda perjalanan ke luar negeri yang tidak mendesak,” kata Wiku dalam konferensi pers daring di Jakarta, Kamis, 20 Januari 2022. Kalaupun terpaksa ke luar negeri, wajib menjalani karantina terpusat saat kembali ke Indonesia. Wiku Adisasmito mengimbau masyarakat tetap disiplin protokol kesehatan, mengikuti vaksinasi, dan menggunakan aplikasi PeduliLindungi saat beraktivitas atau melakukan perjalanan. “Pastikan kita tetap produktif dan aman dari Covid-19 dalam menjalani kegiatan sehari-hari,” ujarnya.

Lonjakan kasus Omicron ini juga membuat fasilitas kesehatan, salah satunya rumah sakit menjadi penuh dengan pasien-pasien positif. Akibatnya, banyak warga yang kesulitan mencari rumah sakit yang masih tersedia. Berdasarkan data pada Rabu (26/1/2022), keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di sejumlah rumah sakit di Jakarta mencapai 45 persen (bisnis.com). Padahal keterisian tempat tidur rumah sakit, khususnya di Jakarta saat ini justru didominasi oleh pasien yang sifatnya bukan mendesak, melainkan yang tanpa gejala atau bergejala ringan.

Meskipun BOR rumah sakit untuk pasien Covid-19 varian Omicron mulai meningkat, namun Abraham Wirotomo selaku Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden memastikan, sampai saat ini ketersediaan tempat tidur masih mencukupi. “Konversi bed untuk Covid-19 terus dilakukan, dan untuk stok obat-obatan di RS juga sudah didistribusikan oleh Kemenkes,” jelasnya. Sebagai informasi, untuk menghadapi lonjakan kasus Covid-19 varian Omicron, pemerintah sudah menyiagakan 1.011 rumah sakit dan 82.168 tempat tidur untuk pasien Covid-19. Selain itu, pemerintah juga sudah menyiapkan jutaan stok obat-obatan untuk tiga bulan ke depan, diantaranya Oseltamivir sebanyak 13 juta kapsul, Favipiravir 91 juta tablet, Remdesivir 1,7 juta vial, Azithromycin 11 juta tablet, dan multivitamin 147 juta.

Lantas, apakah benar solusi ini dapat menuntaskan akar masalah dari merambaknya kasus-kasus Omicron yang terjadi? Setelah hampir 3 tahun lamanya kondisi pandemi ini sepertinya tidak terlihat tanda-tanda akan berakhir.
Sekali lagi perlu dipertanyakan bagaimana peran negara dalam mengatasi masalah-masalah seperti ini. Apakah keputusan yang diambil merupakan pilihan terbaik untuk masyarakat, atau diambil karena dapat menghasilkan manfaat. Tetapi lagi-lagi kita tertampar oleh kenyataan bahwa saat ini kita hidup dalam sistem Kapitalisme, begitu pula dalam penanganan pandemi. Negara tak lagi berfungsi sebagai pengurus rakyat yang akan melindungi kesehatan masyarakat dan memberi jaminan pemenuhan kebutuhan ekonomi rakyat selama pandemi.

Memang benar, bahwa penerapan protokol kesehatan, vaksinasi, penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai, pembatasan jalur keluar-masuk negeri, dan pencegahan-pencegahan lain yang sekarang dilakukan oleh pemerintah bisa mengurangi angka penyebaran kasus Covid-19. Akan tetapi itu semua tidak akan terselesaikan jika sumber utama penyebaran virus ini tidak dicegah. Seharusnya saat awal mula virus ini muncul dan akan masuk ke dalam negeri, negara melakukan pencegahan dengan menutup semua celah penyebaran virus melalui Lockdown. Namun dengan alasan menyelamatkan ekonomi, negara enggan menerapkan kebijakan lockdown. Tindakan penguasa ini menunjukkan keberpihakan terhadap kepentingan ekonomi kapitalis.

Semua ini bisa kita cegah jika sistem Islam diterapkan pada suatu negara. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi semua kaum muslimin di dunia untuk menegakkan syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh alam. Tegaknya syariat islam merupakan kunci bagi penyelesaian persoalan umat hari ini. Termasuk pandemi Covid-19 dan terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Dalam menangani pandemi, sistem ini akan menjamin kehidupan normal diluar area wabah, serta melakukan pemutusan rantai penularan secara efektif.

Dengan itu pandemi berakhir dalam waktu yang relatif singkat secara global dan manusiawi. Selain itu, penerapan sistem kesehatan islam mampu berhadapan dengan berbagai tekanan termasuk pandemi. Setiap orang terjamin akses yang mudah terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan secara gratis dengan kualitas terbaik. Sangat sejahteralah kehidupan masyarakat jika sistem islam diterapkan. Insya Allah, sistem Islam akan kembali hadir memimpin negeri ini dan dunia. Aamiin ya robbal ‘Alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *