Keluar dari Zona yang Menyenangkan

Bagikan :

kananews.net – Setelah beberapa tahun saya dipercaya memimpin parade Islam di kota dunia ini, rasanya kembali terjadi stagnasi (kebekuan). Secara jumlah peserta mengalami naik turun. Kadang besar dan kadang juga menurun drastis. Tapi yang terpenting adalah parade Islam rasanya mengalami erosi makna dan misi. Saya merasakan sebuah kehampaan dalam acara ini. Seolah hanya sebuah perjalanan yang tidak mengenal arah tujuannya.

Oleh karenanya di tahun 2017 ini dengan segala permasalahan yang dihadapi umat ini saya kembali ingin melakukan sesuatu yang lain. Kali ini tidak saja membawa bersama berbagai kelompok komunitas Muslim dalam acara besar ini. Tapi saya merasa masanya untuk komunitas ini berani keluar dari zona nyamannya (comfort zone) yang menidurkan.

Lebih 20 tahun saya tinggal di negara ini, mengalami pasang surut Islamophobia. Menyaksikan realita paradoks di hadapan mata. Bahwa di satu sisi Islam menghadapi tantangan yang luar biasa. Tapi di sisi lain diakui oleh semua bahwa Islam adalah agama dengan perkembangan tercepat. Tapi yang saya kemudian sadari adalah bahwa ternyata Islamophobia atau ketakutan kepada Islam itu dominannya disebabkan oleh “ketidak tahuan” (ignorance).

Tuduhan kepada agama ini dan pemeluknya beragam. Dari agama Timur Tengah dan padang pasir, keterbelakangan dan kemiskinan, kebodohan, kekerasan dan terorisme, hingga kepada tuduhan bahwa Islam itu adalah agama konflik dan perpecahan. Di mana ada konflik di situ ada Islam. Dan karenanya Amerika harus berhati-hati dengan Islam karenya hanya akan membawa konflik dan keterbelakangan.

Apalagi pasca terjadinya kekerasan di sebuah kota negara bagian Virginia, Charlottesville, sebagai akibat langsung dari kemenangan Donald Trump dengan dukungan warga Amerika yang rasist. Bahkan sejak kampanye hingga menduduki Gedung Putih, Donald Trump mengambil berbagai kebijakan yang jelas merugikan segmen tertentu masyarakat Amerika. Secara umum pemerintahan Donald Trump dianggap minimal memberikan angin segar ke tendensi rasisme, khususnya dari kalangan White Supremacy, KKK dan New Nazi.

Secara khusus komunitas Muslim telah mengalami kekerasan cukup lama. Berbagai kasus hingga pembunuhan telah dialami oleh komunitas Muslim. Salah satunya yang masih teringat jelas adalah pembunuhan seorang imam di kota New York beberapa bulan lalu.

Mempertimbangkan semua ini saya kemudian mengambil kebijakan untuk keluar dari zona nyaman parade Islam selama ini. Bahwa selama ini kita merasa nyaman dan aman berjalan bersama sesama Muslim. Bahkan karena merasa nyaman kita seringkali memilih untuk tidak peduli dengan persepsi dan perasaan orang lain di sekitar kita.

Pertama saya menetapkan bahwa tema parade Islam tahun ini adalah “Building Bridges” (membangun jembatan). Pilihan ini sekaligus sebagai bentuk resistensi kepada kebijakan pemerintahan Donald Trump yang dinilai “Building Walls” (membangun dinding/pemisah) antar komunitas.

Kedua saya mengambil kebijakan bahwa untuk pertama kali dalam sejarah parade Islam kita akan mengundang pemimpin-pemimpin non Muslim untuk menjadi “Honorary Grand Marshal” (tamu kehormatan) dalam parade sekaligus menjadi pembicara-pembicara tamu.

Di luar perkiraan ternyata inisiatif ini mendapat sambutan yang luar biasa. Baik dari kalangan Muslim dan juga dari kalangan non Muslim. Tapi yang paling menggembirakan adalah bahwa untuk pertama kalinya parade Islam dimuat oleh berbagai media mainstream Amerika, termasuk New York Times dan Daily News.

Sejujurnya saya akui bahwa memang salah satu tujuan strategi penting dari menghadirkan pemimpin non Muslim, khususnya Yahudi, di parade ini adalah untuk membawa parade ini dari parade komunitas menjadi parade nasional (diakui sebagai bagian dari Amerika). Dan dengan pengakuan ini berarti secara tidak langsung juga merupakan affirmasi pengakuan akan eksistensi komunitas Muslim sebagai bagian integral dari kota New York dan Amerika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.