Teringat Buya Hamka

Bagikan :

kananews.net – Kami tiba di tempat acara, sebuah sekolah khusus yang diinisiasi dan dikelolah oleh pak Budi, pengusaha Semarang yang saya sebutkan terdahulu. Sekolah ini relatif baru, tapi sangat berkualitas karena mengikut sistim pendidikan Al-Azhar yang berpusat di Jakarta.

Memasuki area sekolah mengingatkan saya kepada banyak hal. Satu di antaranya adalah mengingatkan saya kepada seorang ulama besar yang identikal dengan sekolah itu. Hamka adalah nama besar dan sosok nasional bahkan dunia yang mengagumkan. Betapa tidak beliau adalah salah seorang ulama modern di abad 20 yang mampu menghubungkan antara keaslian tradisi agama dan perkembangan dunia baru. Tafsir Al-Azhar selayaknya menjadi rujukan setara dengan karya-karya ulama dunia lainnya. Tapi apakah itu bisa terwujud?

Jawabannya tergantung kepada kita, bangsa dan umat Islam Indonesia. Hal yang paling menentukan adalah apakah kita punya rasa percaya dan motivasi diri untuk menampakkan atau mendorong diri kita atau karya putra-putri bangsa kita ke panggung dunia internasional? Terus terang saja saya agak pessimis dengan itu. Pengalaman saya di luar negeri lebih 30 tahun sekarang ini berkata lain.

Saya teringat ketika saya dianugerahi Ellis Island Honor Award 2009 lalu. Sebuah penghargaan tertinggi non militer di Amerika yang diberikan kepada imigran atau anak-anak imigran yang dianggap memiliki kontribusi atau potensi kontribusi bagi bangsa Amerika. Saya menerima award itu bersama Jenderal Abi Zayd, mantan komando militer Amerika di Irak dan Gloria Estefan, penyanyi legendaris keturunan Hispanik. Nama-nama penerima penghargaan itu diabadikan di sebuah pulau kecil di kota New York bernama Ellis Island. Pulau di mana imigran pertama dahulu masuk ke kota ini.

Saya teringat itu karena kebesaran sebuah bangsa salah satunya adalah kemampuan bangsa itu menghargai, atau minimal mengakui (recognize) kontribusi anak-anak bangsanya. Satu hal yang saya yakin Indonesia harus banyak belajar dari bangsa lain. Terkadang pengakuan terhadap putra-putri bangsa itu kerap kali ditentukan oleh faktor-faktor kepentingan. Dan kerap kali pula dilihat kepada tingkat sosial dari mereka. Jika anda secara strata sosial berada di kalangan elit anda akan mudah diakui (recognized). Tapi jika anda hanya dari kalangan rakyat biasa, tidak memiliki posisi atau koneksi dengan pemilik posisi, anda akan berbuat tanpa dihiraukan oleh orang lain. Bahkan sering kali menyedihkan adalah justeru dianggap “membahayakan” dan “saingan” bagi mereka yang berada pada posisi tertentu.

Saya justeru kagum kepada bangsa China dan India. Anak-anak bangsa mereka akan selalu mendapat perhatian dan bahkan pengakuan dan penghargaan oleh bangsa aslinya. Di manapun mereka berada, bahkan pada posisi apapun dan warga negara manapun, mereka akan diperhatikan dan diakui sebagai bagian kebangsaan mereka yang dinilai berpotensi untuk memberikan kontribusi kepada bangsanya.

Akankah Indonesia mampu melakukan itu? Kemungkinan untuk sampai ke sana diperlukan “revolusi mental” seperti gagasan Presiden Jokowi. Bahwa masalahnya ada pada mentalitas manusia yang terkadang terhantui oleh jiwa “kekalahan” (defeated). Jiwa terkalahkan ini akan selalu membangun “kecurigaan” kepada sesama sehingga yang terjadi adalah saling “menjegal” dan “menyikut”. Ah…semoga saya keliru!

Setelah acara kami di sekolah Al-Azhar Pati itu kami segera meluncur kembali ke kota Semarang untuk tiga acara lainnya. Yang pertama di Telkom Jateng, lalu di sebuah masjid yang rencananya dihadiri oleh Walikota. Dan acara puncak saya hari itu adalah menyampaikan ceramah Halal bihalal di masjid Agung Jawa Tengah. (Bersambung)…..

New York, 21/08/17 00.52

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.