Hadirkan 5 Pembicara Kondang, Poros Muda Sulsel Gelar ‘Focus Group Discussion’ di Coffe by BaDjua

Bagikan :

Makassar, kananews.net – Lembaga Poros Muda Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar Focus Group Discussion dengan mengangkat tema, “Peran Pemuda dalam Pembangunan Ibukota Baru” di Coffe By BaDjua Alauddin, pada Kamis (17/02/2022).

Fokus Group Discussion ini diikuti oleh puluhan aktivis muda dari berbagai instansi. Sementara yang menjadi pemateri, Poros Muda Sulsel menghadirkan 5 pembicara. Di antaranya, Dr. Bahtiar Maddatuang, Takdir Khair, Mustaqim Zulkifli, Erwin Saputra, dan Dr. Abdi. Masing-masing mengupas tuntas perilah peran yang harusnya diambil pemuda dengan pindahnya Ibukota ke Kalimantan.

Dr. Abdi, pemateri pertama mengapresiasi kegiatan yang diusung oleh teman-teman di Poros Muda Sulsel. Kata dia, agenda-agenda seperti ini harus terus dilakukan sebagai pemuda generasi bangsa. 

“Banyak saudara kita yang bermasalah dengan kesehatan hakhir-akhir ini, tetapi kita alhamdulillah diberi nikmat sehingga bisa hadir pada diskusi yang sangat luar biasa ini,” ujar Dr. Abdi.

Lanjut dia katakan, situasi negara akan berubah dengan perubahan yang sangat drastis nantinya. Kita tidak boleh tinggal diam jika situasi negara seperti ini.  Pada UUD 1945, itu tidak lokus menyebutkan di mana letak ibu kota negara. Tidak seperti UU yang dimiliki Belanda. mereka jelas mengatakan dalam UU-nya, ibukota ada di Amsterdam.

“Proses perpindahan negara, pusat pengolahan negara sebetulnya sudah pindah dua kali, dari Batavia ke Jogjakarta. setelah mendapat gangguan dari penjajah, dipindahkan lagi ke Bukit Tinggi (1947). Dari Bukit Tinggi pindah lagi ke Jakarta,” beber Dr. Abdi.

Dokumentasi kegiatan

Sementara itu Mustaqim Zulkifli menjabarkan bahwa orientasi kepemudaan harus diubah. Kata dia, kalau dulu mungkin berorientasi pada kepemimpinan politis, saat ini kita harus ubah itu.

“Hari ini, kita tidak hanya harus jadi tokoh politisi, harus menjadi pemimpin dan berwirausaha juga, serta harus berlatar belakang akademisi,” jelasnya.

Hal seanada digambarkan oleh Dr. Bahtiar Maddatuang, pemindahan ini ada bentuk ply efek. ada begitu banyak peluang jika dimainkan. saya harap ini bisa menjawab minimal satu variabel ketimpangan ekonomi kita.

“Contoh kecil, nantinya akan banyak kebutuhan-kebutuhan atau peluang yang bisa dimanfaatkan, misalnya usaha catering, laundry, dll. Ini bisa menjadi kesempatan bagi masyarakat jika ingin maju dalam hal ekonomi dengan memanfaatkan situasi ini,” lanjutnya.

Takdir Khair menambahkan, mari berbondong-bondong membantu pemerintah. Tidak mungkin juga pemerintah rela melihat masyarakatnya terpuruk. Selain itu, dia juga mengisyaratkan bagi pemuda agar memperhatikan perndidikan.

“Kita harus perhatian pada dimensi pendidikan, tanpa pendidikan, Indonesia tidak akan maju,” ujarnya. 

Erwin Saputra,yang menjadi pembicara terakhir membahasakan perpindahan ini semestinya disambut dengan baik. dari zaman Soekarno, sebetulnya sudah diminta agar ibukota pindah.

“Kalau dulu harus dipindahkan akibat ancaman militer, sekarang bahkan non militer. Keadaan di Jakarta sudah tidak memungkinkan lagi dengan kepadatan penduduknya,” papar Erwin Saputra.

Lanjut dia katakan, sebagai pemuda penerus bangsa, kita wajib mengambil bagian pada Ibukota baru. Jangan sampai kita tidak mengambil manfaat dari perpindahan ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.