Tindak Lanjuti Permohonan IOM, Pertuni Lakukan Asesmen ke Imigran Tunanetra Makassar

Bagikan :

Makassar, kananews.net – Delegasi pengurus Persatuan Tunanetra Indonesia Sulawesi Selatan (PERTUNI SULSEL), berkunjung ke Warkop Jalarambang yang ada di Jalan Abdullah Dg. Sirua (Selasa 15 Vebruari 2022). Kunjungan ini merupakan tindak lanjut antara PERTUNI SULSEL bersama International Organization for Migration (IOM)  untuk Migrasi Intergovernmental Committee for European yang berkunjung ke sekretariat DPD PERTUNI pada Senin 14 Vebruari 2022 yang lalu.

Kerjasama ini, seperti yang sudah diketahui dari pertemuan sebelumnya, adalah jalinan kerjasama guna memfasilitasi seorang imigran yang merupakan tunanetra bernama Khaliq Dad Ibrahimi untuk belajar kemandirian. Khaliq yang berusia 24 tahun ini diketahui merupakan imigran dari Afganistan. Salah satu matanya totaly blind dan yang lainnya lowvision.

Kedepannya, PERTUNI DPD Sulawesi Selatan akan melakukan pendampingan pada Khaliq, baik dalam segi menguatkan sikologisnya juga dalam sisi mengajarkannya kemandirian sebagai tunanetra. Andi Zulfajrin Syam selaku pengurus PERTUNI menjanjikan akan mengajarkan beberapa hal ke Khaliq. Meliputi penggunaan tulisan braille, penggunaan screen reader yang membantu tunanetra untuk mengoperasikan handphone, dan juga orientasi mobilitas (OM) yang diharapkan bisa membantu Khaliq menjalani hidup dengan mandiri.

Pihak IOM telah mendampingi Khaliq selama kurang lebih lima tahun. Dalam waktu lima tahun itu, IOM juga kerab bercerita soal organisasi disabilitas, termasuk PERTUNI yang konsen ke isu-isu kemandirian tunanetra.

“Di Afganistan saya tidak sekolah, saya hanya belajar pendidikan non formal seperti belajar bahasa asing.
Olehnya itu dengan adanya IOM dan PERTUNI saya mau berbagi ilmu dan mempelajari apa-apa yang sudah ditawari dari pihak PERTUNI karena saya suka belajar hal-hal baru,” ungkap Khaliq dalam pertemuan tersebut.

Ismail Naharuddin, salah satu pengurus PERTUNI DPD Sulawesi Selatan menegaskan “Tunanetra itu bukan penyakit tetapi penyakit itu seperti gangguan pada retina tetapi kalau kamu sudah jadi tunanetra itu hanya status, jadi jangan kamu menganggap tunanetra itu penyakit karena mata itu ada juga masanya seperti yang saya alami saat ini jadi, buang jauh-jauh stigma negatif itu dan masuk kedunia baru dengan bergabung dengan teman-teman disabilitas netra.”

Menutup pertemuan, ketiga pihak baik IOM, PERTUNI maupun Khaliq bersepakat untuk kedepannya bahu membahu membentuk Khaliq sebagai pribadi yang mandiri, dan dapat mengakses segala hal melalui orientasi mobilitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.