Paradoks Dua Pemimpin

Bagikan :

kananews.net – Sebagai ilustrasi kenyataan paradoks dunia kita, saya menyampaikan dua contoh pemimpin bangsa pada masa dan tempat yang berbeda. Yang satu adalah pemimpin sebuah bangsa di Afrika dan di abad silam, di saat dunia masih dikenal sebagai dunia tribalisme. Dan yang satu lagi adalah pemimpin di negara Barat (tanpa menyebut nama) dan di abad kini, di saat dunia mengaku sebagai dunia yang modern, beradab, lebih maju dalam berlikor dan pendidikan. Dari kedua pemimpin ini siapa yang berhak dan punya otoritas moral (moral authority) untuk mengklaim sebagai pemimpin yang lebih beradab dan berkemajuan?.

Pemimpin yang pertama adalah raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia). Beliau adalah pemimpin dari kerajaan Kristen di Afrika saat itu. Pemimpin yang kuat, berwibawa, tapi bijak dan berkarakter.  Beliau memimpin di Afrika, dan justeru di abad ketujuh yang dikenal sebagai abad yang masih sangat terbelakang. Tapi kenapa beliau mempu menjadi pemimpin yang luar biasa dan berkarakter? Saya sangat yakin bahwa itu karena dampak dari ajaran Isa AS yang dihayatinya.

Karakter kepemimpinan yang berkarakter dan beradab itu dibuktikan di saat sekelompok orang asing dari luar negaranya, yang tidak dikenalnya, bahkan datang dari negara yang kerap konflik dan perang. Mereka adalah pengikut Rasulullah SAW yang datang ke mereka di awal-awal datangnya risalah Islam untuk mendapat perlindungan dari kebiadaban para kafir musyrik di Mekah. Sang raja harusnya curiga, mereka adalah orang-orang Arab yang dikenal keras, senang perang, dan kurang bermoral. Tapi membuka mata, pikiran sekaligus hati terhadap realita di hadapannya. Bahwa pre asumsi yang terkadang menjadi kesimpulan belum tentu adalah sebuah kesimpulan yang benar. Oleh karenanya beliau memastikan siapa mereka yang hadir di hadapannya itu dengan menanyakan keyakinannya. Dan pemimpin rombongan itu, Jafar bin Abi Thalib, hanya mengutip beberapa ayat dari Surah Maryam. Sang raja pun membuka pikiran dan mata hatinya menemui keagungan akan ajaran yang diyakini oleh pendatang itu.

Pemimpin yang kedua adalah pemimpin sebuah negara besar, di bagian dunia yang merasa lebih maju dalam berpikir dan peradaban. Dan justeru di masa yang diakui sebagai masa modern dan lebih beradab, berilmu dan berkemajuan dalam pemikiran. Tapi justeru yang terjadi adalah memilah-milah manusia berdasarkan ras dan asal kesukuan. Pemimpin yang menimbang-nimbang manusia berdasar warna kulit dan bentuk wajahnya. Pemimpin yang menolak kedatangan mereka yang terusir dari negaranya karena perang yang direkayasa oleh siapa? Mereka ditolak karena dicurigai jangan-jangan pendatang itu membawa karakter keras, menjadi teroris, karena mereka datang dari negara yang dilabeli teroris. Padahal para pendatang itu melarikan diri dari teroris-teroris ciptaan siapa?.

Dari kedua pemimpin itu siapakah yang berhak mengaku lebih berkemajuan, beradab dan menghargai nilai-nilai universal kemanusiaan yang agung, kesetaraan di antaranya? Apakah pemimpin abad tujuh di sebuah negara Afrika atau pemimpin di abad 21 di sebuah negara maju?.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.