Komunikasi Dakwah

Bagikan :

kananews.net – Acara pertama saya siang itu adalah memberikan presentasi tentang perkembangan dakwah di Amerika di sebuah Institusi Dakwah di Surabaya. Kalau tidak salah institusi itu bernama Lembaga Komunikasi Dakwah Islam. 

Memasuki institusi itu saya merasa sangat relevan. Saya dan materi yang rencananya saya sampaikan serasa menemukan habitat yang pas. Maklum karena selama ini salah satu permasalahan dakwah yang saya rasakan cukup pelik adalah masalah komunikasi dakwah itu sendiri.

Dakwah itu adalah konsensus kewajiban umat. Artinya menyampaikan agama ini adalah kewajiban kolektif semua anggota umat. Tentu dengan cara dan kapasitas masing-masing. Di sini perlu saya tekankan, menyampaikan dan bukan mengislamkan. Sebab ada saja kekeliruan besar di benak sebagian orang Islam, dan juga non Muslim. Seolah menyampaikan yang dalam bahasa lainnya “tablig” adalah mengislamkan. Padahal tidak seoarangpun yang mampu melakukan itu. Hidayah adalah hak mutlak Pencipta manusia.

Bukankah Muhammad SAW tidak mampu mengislamkan pamannya?Bukankah Ibrahim AS tidak mampu mengislamkan ayahnya?

Bukankah Nuh AS juga tidak mampu mengislamkan anaknya?

Bukankah pula Luth AS tidak mampu mengislamkan isterinya?

Lalu siapa kita yang merasa mampu mengislamkan orang?

Intinya saya ingin menggaris bawahi bahwa dakwah bukan untuk bertujuan “konversi”. Keyakinan atau iman itu adalah “kata hati” yang paling dalam dari seseorang. Dan karenanya tidak seorangpun yang berhak melakukan intervensi. Islam juga sangat tegas: “tiada paksaan dalam agama”. Bahkan Al-Quran menegaskan: “kamu (wahai Muhammad) tidak punya kuasa atas mereka (untuk menentukan iman mereka).

Karenanya kewajiban menyampaikan ini tidak lain adalah bagian dari proses pengenalan, demi terbangunnya pemahaman yang benar dari agama ini. Saya yakin memahami agama kita, dan agam orang lain secara benar, menjadi kontribusi penting dalam keamanan (security) dan perdamaian (peace) dunia kita saat ini.

Oleh karenanya dalam hal dakwah ini masalah terpenting justru ada pada sisi “how” atau bagaimana  dakwah itu seharusnya disampaikan? Kecerobohan atau dalam mengkomunikasikan agama ini seringkali membawa kepada akibat yang fatal.

Dakwah itu esensinya “ajakan”. Mengajak itu memiliki nuansa “persuasi”. Persuasi itu harusnya membangun “simpati”. Dan simpati itu biasanya akan lebih efektif melalui “kepercayaan”. Sementara untuk tumbuhnya kepercayaan diperlukan proses dialog. Proses dialog inilah yang saya terjemahkan dengan “proses tablig” atau pengenalan.

Dan di sini pulalah komunikasi itu memiliki peranan kunci yang menentukan. Dakwah yang tidak mengenal komunikasi yang tepat justeru berbalik arah dan tujuan. Yang terjadi bukannya “ajakan”, tapi “pengusiran”.

Sebagai ilustrasi saja. Seorang teman Katolik misalnya ingin mengenal agama ini. Datanglah dia ke seorang ustadz, yang boleh jadi sangat berilmu. Sayangnya ustadz ini kurang menguasai ilmu komunikasi itu. Sehingga yang terjadi adalah apa yang sering saya istilahkan dengan komunikasi “bolduzer”. Main hantam dengan tujuan baik. Akhirnya semua runtuh dan belum tentu bisa terbangun kembali.

Sang ustadz kemudian menerima teman Katolik tadi. Pertanyaan pertama sang Katolik itu adalah apa pandangan Islam tentang Yesus Kristus? Apakah Yesus dalam Islam itu dihormati dan dicintai?

Pertanyaan ini tentu mewakili sentimen dasar beliau yang memang sangat cinta dan hormat kepada Yesus. Beliau tentu ingin Yesus dicintai dan dihormati oleh seluruh manusia. Beliau bahkan ingin jika Yesus diterima menjadi bagian dari iman keagamaan manusia

Tapi karena di kepala sang ustadz ini memang yang ada adalah sisi negatif semata dari semua orang, maka jawaban pertama yang disampaikan adalah “sungguh kafirlah orang yang percaya kepada trinitas (tsalitsu tsalatsa)”. Dengan kekafiran itu kemudian sang ustadz segera menjatuhkan vonis jika orang di hadapannya itu adalah ahli neraka.

Salahkah statemen itu? Tidak. Bahkan itu adalah ayat Al-Quran. Tapi penyampaian yang tidak sesuai dengan suasana lingkungan dan audiens  dakwahnya. Lalu apa yang terjadi?

Mendengar itu sang katolik itu sedih, bahkan boleh jadi marah. Yang terjadi bukan lagi ingin tahu tentang Islam. Tapi bagaimana mencari cara agar Islam semakin buruk di mata orang. Bahwa Islam itu anti agama lain, dan membenci pemeluk agama lain. Diapun akan pulang dengan hati geram dan penuh permusuhan.

Di sinilah kita lihat betapa komunikasi yang tepat itu menjadi krusial dalam menentukan wajah Islam yang sesungguhnya. Kalau saja sang ustadz tadi memulai dengan hal-hal yang disepakati dan positif, mungkin akan lain hasilnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.