Fokus Group Diskusi Serum Institute, WR 3 UNM: Berikan Mahasiswa Ruang

Bagikan :
Dokumentasi kegiatan.

Makassar, kananews.net – Serum Institute menggelar kegiatan yang disebut, Fokus Group Discussion. Mengangkat tema, “Mengawal Demokrasi Tanpa Melukai Hati Rakyat” di Maleo Hotel, Kamis (20/01/2022).

Diskusi yang digelar oleh Serum Institute ini dihadiri oleh puluhan tamu undangan. Di antaranya, Wakil Rektor (WR) III Universitas Hasanuddin, WR III UIN, WR III UNM, Dekan Fisip Universitas Bosowa,

Direktur Serum Institute, Irfan Baso dalam sambutannya menyambut hangat oara tamu undangan.

“Spesial rasanya atas kehadiran para tamu undangan. Para WR III, Kapolda atau yang mewakili, dan teman-teman aktivis. Lebih spesial lagi atas kehadiran guru kami di Serum, Dr. A. Ali Armunanto,” sambut Irfan Baso.

Prof Arsunan Arsin dari Unhas selaku pembicara pertama mengatakan, sebagai WR III Ada beberapa hal pokok yang harus diperhatikan.

“Tidak berjalan sendiri-sendiri, mahasiswa harus didorong untuk berprestasi, mahasiswa harus disejahterakan. Di Unhas sendiri, sudah 30% mahasiswa yang mendapat beasiswa,” tutur Prof Asunan.

Lanjut kata dia, yang perlu diperhatikan juga dan sangat penting adalah kaderisasi atau kepemimpinan.

“Ketua OSIS bebas tes masuk di Unhas. Sejauh ini telah 3 angkatan Ketua OSIS yang kami terima. Sebetulnya hal ini sempat mendapat kritikan, tetapi atas keyakinan, ini terbukti dan menjadi mahasiswa yang berpengaruh dengan menjadi ketua-ketua di kampus,” lanjutnya.

Sementara itu, WR 3 UIN menuturkan, sebenarnya yang elegan itu adalah ketika berbicara demokrasi sudah tidak ada lagi masalah perihal kesejahteraan.

“Memahami demokrasi untuk saat ini betul-betul harus diperhatikan,” bebernya.

Hal senada diutarakan WR III UNM, Sukardi Wedan. Saya mengamini yang jabarkan oleh dua senior saya sebelumnya. Saya mengapresiasi kegiatan yang digelar oleh Serum yang mempertemukan kita semua di tempat ini.

“Mengawal demokrasi tanpa melukai hati rakyat. Tetapi dikampus, mengawal demokrasi tanpa melukai hati mahasiswa,” ujar Sukardi Wedan.

Lanjut dia katakan, saya mengambil contoh, yang menjadi DPR saat ini adalah mahasiswa yang dulunya berkoar-koar semasa di kampus.

“Saatnya intropeksi diri, mari mengawal demokrasi tanpa melukai siapapun. Untuk adek-adek mahasiswa yang demo, Selama tidak menganggu orang yang lewat, silakan,” tegasnya lagi.

Tambahnya, adek-adek mahasiswa turun ke jalan yak lain karena memperjuangkan aspirasi rakyat. Saya sangat mengapresiasi mahasiswa yang berorganisasi. Jangan frontal kepada adek-adek, kita dampingi mereka. Berikan mereka ruang.

“Anda datang ke kampus untuk belajar. Tapi ada yang sunnah, berorganisasi. Nanti ketika menjadi alumni, perlu disepakati bahwa softskill hanya didapatkan di organisasi,” tambahnya.

Dekan Fisip Universitas Bosowa dalam diskusi ini sedikit menggambarkan keadaan demokrasi di kampusnya. Kata dia, menarik mencermati dinamika demokrasi kita saat ini. Disokong oleh semangat kebebasan. Situasi dalam kampus, tidak bisa dijadikan referensi utama ketika melihat dinamika mahasiswa yang mengawal demokrasi. Karena mereka juga terekspos oleh pengaruh eksternal.

“Sebagai akademisi, saya juga merasakan di Unibos. Salah satu kampus swasta yang juga sangat berpengaruh di jalanan selain kampus swasta lainnya dalam hal turun ke jalan,” tuturnya.

Sementara Dr. Ali Murnanto saat diberi kesempatan berbicara menuturkan, saya lebih ke demokrasinya. Tidak mengolah sisi praktisnya. Judulnya sebenarnya membuat saya miris, berbicara demokrasi. Sebenarnya demokrasi tidak dirancang untuk rakyat, tapi untuk melukai rakyat.

“Demo artinya orang yang terpilih dari bangsawan. Kata demo saja sudah melukai hati rakyat,” kata Dr. Ali Murnanto.

Hadirnya berbagai OKP pada diskusi ini membuat diskusi semakin menarik. Berbagai keluh kesah diungkapkan oleh mereka yang telah didapatkan dan dianggap penting untuk didiskusikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.