Literasi Finansial: Solusi Indonesia Menjadi Negara Maju

Bagikan :

Oleh: Shaufatul Maruf (Mahasiswa, Pengurus Forum Lingkar Pena Ranting Unismuh)

Opini, kananews.net – Pengertian umum dari financial literacy atau literasi keuangan adalah pengetahuan dan juga keterampilan masyarakat yang mampu memberikan keyakinan terkait lembaga keuangan dan berbagai produk di dalamnya dalam parameter ukuran indeks.

Namun, beberapa ahli dalam bidang ekonomi memiliki pandangannya sendiri terkait literasi keuangan. Mitchell berpendapat bahwa literasi keuangan adalah cara mengukur kemampuan setiap orang dalam menjalani berbagai informasi ekonomi yang didapatkannya. Sehingga memungkinkan mereka untuk mampu mengambil keputusan dalam membuat perencanaan keuangan, akumulasi keuangan, hutang dan dana pensiunnya. Namun, indikator literasi keuangan nyatanya tidak bisa dibuat baku, karena layanan jasa keuangan biasanya mempunyai indikatornya sendiri untuk menilai kemampuan setiap nasabahnya. Tapi, contoh sederhana nya bisa diperhatikan dari perspektif setiap individu.

Di zaman yang modern seperti saat ini literasi tentang keuangan/finansial menjadi hal yang tidak diketahui banyak orang. Ketika mendengar kalimat “Literasi Finansial” kita justru memikirkan bahwa hal seperti itu hanya dapat dipahami oleh para intelek dan kaum berada saja. Namun, seharusnya literasi tentang keuangan ini dipahami oleh semua kalangan.

Sangat memprihatinkan bila kita melihat kenyataan bahwa presentasi tentang pemahaman literasi finansial di Indonesia masih sangat sedikit. Padahal literasi finansial yang baik sangat diperlukan untuk mendukung berbagai fungsi ekonomi. Jadi semakin banyak masyarakat yang sadar terkait produk dari jasa keuangan, maka akan semakin meningkat pula transaksi keuangan yang ada, dan akhirnya akan mampu meningkatkan pergerakan roda perekonomian. Selain itu, literasi keuangan juga memiliki dampak yang sangat besar pada perekonomian. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah penduduk yang sadar akan produk dan jasa keuangan yang selanjutnya disertai dengan peningkatan pemanfaatan produk dan jasa keuangan, sehingga mampu menggerakan roda perekonomian menjadi lebih cepat. dan ini dapat menjadi faktor terbesar bagi Indonesia untuk berubah dari negara berkembang menjadi negara maju.

Salah satu artikel yang pernah ditulis di accurate.id tahun 2010 menyatakan bahwa dalam kelangsungan pertumbuhan ekonomi sangat dibutuhkan tingkat literasi keuangan yang tinggi karena tingkat jumlah penggunaan produk dan jasa keuangan yang tinggi akan mampu menstimulasi permintaan pada produk dan jasa keuangan secara berkelanjutan.

Sayangnya, di Indonesia kita hanya diajarkan sedikit tentang literasi finansial di bangku sekolah. Di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar kita hanya di ajarkan tentang menabung dan berhemat, setelah tamat dari SD justru menabung dan berhemat menjadi sesuatu yang dianggap kolot. Padahal menabung dan berhemat adalah antisipasi kita untuk kejadian genting dimasa depan.

Salah satu dampak negatif yang dapat terjadi bila literasi finansial tidak gencar disebarluaskan oleh pemerintah adalah menurunnya presentase pertumbuhan ekonomi di Indonesia meski tanpa adanya krisis ekonomi. Pemerintah sebaiknya sering-sering memberikan sosialisasi kepada masyarakat terutama masyarakat menengah kebawah tentang bagaimana cara mengatur keuangan sehingga masyarakat yang berpenghasilan rendah sekalipun punya pengetahuan tentang cara mengatur keuangan. Namun itu tentunya kembali lagi ke pribadi masing-masing agar dapat menghindari perilaku konsumtif yang berlebihan.

Literasi finansial bukan hanya masalah mengatur keuangan saja. Literasi finansial juga mengajarkan tentang investasi. Ada banyak instrumen investasi yang tersedia saat ini seperti: obligasi, Reksadana, bisnis, sampai investasi yang sedang digandrungi oleh kalangan masyarakat saat ini yaitu saham dan cryptocurency (mata uang digital).

Dengan kemajuan teknologi seperti saat ini kita dapat mempelajari literasi finansial di banyak platform, kita bisa mempelajari tentang trik-trik dalam mengatur pemasukan dan pengeluaran, investasi saham, emas, obligasi, dan bahkan kita bisa belajar bisnis lewat video dari YouTube secara gratis.

Nyatanya literasi finansial di Indonesia masih sangat minim, disebutkan bahwa literasi finansial di Indonesia hanya sebesar 29,6% di tahun 2018. Artinya ada 70% lebih orang di Indonesia yang tidak mengetahui cara mengatur keuangannya, sehingga kita lihat kemiskinan di Indonesia masih belum bisa terselesaikan.

Kabar baiknya di tahun 2020 literasi keuangan di Indonesia bertambah lebih dari 10% yaitu di angka 40% (Okezone.com). Tetapi angka tersebut masih jauh dari kata cukup, masyarakat dan pemerintah harus bekerjasama dalam memahamkan setiap kalangan agar mengerti tentang literasi finansial ini, demi meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat dan harapan terbesarnya dapat menjadikan Indonesia sebagai negara maju.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.