Predator Seksual Makin Subur, Dimana Peran Negara?

Bagikan :
Sumber Gambar : CNN Indonesia

OPINI Oleh; Khaeriyah Nasruddin
Kananews.net-OPINI–Akhir-akhir ini kita disuguhi berita-berita menyesakkan, sebagai orangtua tentulah geram ditambah miris melihatnya. Anak yang dididik baik-baik berujung jadi korban kekerasan seksual, pelakunya adalah orang dekat sekaligus yang diberi kepercayaan untuk mendidik.

Sebut saja, dosen UNSRI dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dinonaktifkan sebagai dosen sekaligus dicopot jadi kepala laboratorium karena terbukti melakukan pelecehan seksual secara fisik kepada mahasiswanya saat melakukan bimbingan skripsi.

Ada juga dari Kota Bandung, seorang ustadz pimpinan pondok pesantren telah memerkosa 12 santriwatinya dan 8 di antaranya telah melahirkan. Dari kota Jawah Tengah, masih dari guru, guru agama ini telah mencabuli 15 siswinya yang masih berstatus SD. Sementara dari Kota Makassar, pelakunya seorang satpam, ia merekam mahasiswi saat mandi di kamar mandi dengan menggunakan telepon seluler (HP).

Kasus seperti ini terus bermunculan bahkan berkembang motifnya, entah sampai kapan berhenti. Tapi kalau dipikir-pikir kasus serupa sulit dihentikan kalau mata rantainya tidak diputus segera, lagipula kasus sekarang ini hanya sedikit yang muncul, bagaimana dengan kasus lain yang masih tersembunyi?

Hal yang makin memprihatinkan adalah pelakunya, mereka sosok pendidik yang diharap memberikan contoh baik kepada muridnya. Status sebagai pendidik lekat dengan ilmu, oleh sebab itu guru seharusnya mampu menjaga diri dengan menampilkan perilaku terpuji. Realitasnya, guru bukan memberi contoh malah melecehkan, bukan mendidik tapi merusak didikannya. Melihat hal ini, kemuliaan seorang guru tidak hanya jatuh tapi dunia pendidikan ikut tercoreng wajahnya.

Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menunjukkan bahwa pada tahun 2019 tercatat sekitar 8.800 kasus kekerasan pada perempuan, kemudian 2020 sempat turun di angka 8.600 kasus, dan kembali mengalami kenaikan berdasarkan data hingga November 2021 di angka 8.800 kasus. (CNN Indonesia/09/12/21).

Disebutkan juga pada masa pandemik tingkat kekerasan anak dan perempuan terus mengalami peningkatan. Memang tak bisa diabaikan bahwa kasus ini akan terus meningkat seperti halnya bola salju, akibatnya anak-anak dan perempuan tak bisa lepas dari kejahatan predator seksual.

Sayangnya meskipun predator seksual makin menjamur, seruan Hak Asasi Manusia, kesetaraan gender atau menyiapkan undang-undang, memberikan pendidikan seks dini, mendampingi korban, membentuk relawan/komunitas dan seterusnya demi untuk menjerat pelaku, nyatanya tak bisa membuat jera sementara negara masih gagal mengatasi persoalan ini. Demikianlah seterusnya umat akan terus diserang oleh kejahatan kalau akar persoalan utamanya tak pernah disentuh.

Sebenarnya biang kerok dari kerusakan ini berakar pada rusaknya sistem sekuler yang diterapkan oleh negara. Sistem ini memang telah menjauhkan agama dari setiap sendi kehidupan, sehingga individunya tak punya pegangan ideologis dalam menjalani hidup, sementara negara yang diharapkan punya kekuatan untuk mengatur terlihat begitu lemah.

Maraknya kasus predator seksual ini semestinya menyentak kesadaran kita bahwa yang dibutuhkan adalah implementasi sempurna terhadap hukum Islam. Sistem Islam akan menetapkan aturan tegas berdasarkan ketetapan Pencipta bukan demokrasi. Adapun solusi islam mengatasi kekerasan seksual di antaranya:

  1. Allah swt. berfirman dalam surah At-Tahrim: 6, yang artinya, “… jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” Secara umum ayat ini memerintahkan agar setiap kepala keluarga mendidik keluarganya dengan panduan islam agar keluarga tersebut bisa terhindar dari kemaksiatan dan terjauhkan dari siksa neraka.
  2. Islam juga telah mewajibkan kaum perempuan menutup auratnya dengan mengenakan jilbab dan kerudung sebagaimana yang tertulis dalam QS. An-Nur: 31 dan QS. Al-Ahzab: 59, mengharuskan mundukkan pandangan bagi perempuan dan laki-laki perintah ini terdapat dalam QS. An-Nur: 30-31. Dalam kehidupan umum, Islam pun menetapkan batas-batasnya, melarang perempuan dan laki-laki mendekati zina. Adapun untuk memenuhi naluri seksuai yang sesuai dengan fitrah dan tujuan pencintaan naluri melestarikan jenis ini Allah menetapkan pernikahan adalah solusinya.
  3. Islam memerintahkan beramar makruf dan nahi mungkar. Bersama-sama untuk tidak membiarkan sebuah kemaksiatan berdiri dan saling mengingatkan agar terus berbuat kebaikan. Islam juga melarang adanya konten-konten berbau pornografi.
  4. Islam menyiapkan sanksi tegas bagi pelaku, sanksi ini didasarkan pada aturan Allah swt, yaitu hukum rajam bagi pezina yang sudah menikah dan cambuk 100 kali bagi yang belum menikah. Adapun bagi pelaku, ia diberi sanksi had zina jika benar terbukti bersalah atau ia sendiri mengakui perbuatannya. Sementara kalau pelaku tidak mengaku dan tidak ada 4 orang saksi maka hakim berhak menjatuhkan sanksi dan ta’zir kepadanya.

Demikianlah cara islam mengatasi masalah ini. Islam sangat tegas terhadap kasus tindak kriminalitas (baca: pelecehan seksual), oleh karena itu sanksi yang ditetapkan sangatlah tegas. Hukuman ini juga bisa membuat jera pelaku (zawajir) sekaligus menjadi penghapus dosa (jawabir) yang telah dilakukannnya sampai waktunya tiba di hari penghisaban kelak. Penerapan sanksi ini pun bukan bermaksud menampakkan kekejaman tetapi lebih kepada ingin melindungi manusia agar mereka takut berbuat kriminal. Inilah bentuk penjagaan islam terhadap warga negaranya, menjauhkan mereka dari perilaku kriminalitas serta menjaganya agar tetap berada dalam suasana baik.

Wallahu ‘alam bishowab…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *